Ini pertama kalinya..
Aku melihat gerhana, meski pernah aku melihat yang mirip seperti itu di siang hari, tapi saat itu aku tidak melihat prosesnya dari awal..
Dan bahkan satu malam sebelum gerhana terjadi, aku sudah kelelahan, lelah untuk berlari, tak hanya kaki, tapi sekarang semua sendi sampai kepalaku sudah sangat lelah.. Sempat menjadi orang bodoh yang menyerah pada keadaan, ah meski aku sudah pernah melakukannya.. Tapi malam itu aku benar-benar kalah bukan lagi mengalah..
Menjadi manusia paling kusut esoknya dan harus bertemu banyak orang, teman, tetangga, dan semuanya. Aku lalu menjadi orang yang dikasihani, oh menyebutnya diberi kasih sayang sepertinya lebih pantas, atau aku lebih suka menyebutnya merepotkan sebenarnya. Aku lebih suka direpotkan, ya aku sangat suka untuk menjadi repot, rela menjadi repot..
Karena sejak pertama kali aku mendengar kata itu dan belajar memahami artinya, aku pun tahu bahwa menjadi repot untuk orang lain bisa membuat orang yang berkata “maaf merepotkan” bisa tersenyum.. Dan aku pun makin suka untuk jadi repot bagi orang lain, karena meski kadang lelah, jengkel, tampak bodoh, tapi itu menyenangkan..
Bukan berarti aku jelas-jelas menolak untuk merepotkan orang lain, tidak.. Karena rupanya ketika aku benar-benar lelah dan menjadi sangat merepotkan, aku dikasihani, aku. . . disayangi, setidaknya aku bisa merasa seperti itu. Rasanya lebih menyenangkan ketika ada seseorang yang menungguiku sampai suhu tubuh yang berlebihan itu kembali normal, meski orang itu pun akhirnya tertidur di tempatnya menungguku, di tempat tidur yang sama dengan yang ku gunakan.. Tapi sudah lama sekali ada seseorang yang melakukan hal sama seperti itu dan setelahnya tidak ada lagi, hingga hari itu, hari disaat aku benar-benar lelah.. ya, aku harus, dan pasti aku akan melakukan banyak hal untuk orang ini, sangat banyak, dan kalaupun aku tidak bisa melakukan sebanyak yang aku mau, aku akan mendoakannya, berdoa sesering dan sebanyak yang aku mampu, agar dia bisa tersenyum, selalu tersenyum..meski airmata menetes di pipinya.. dan aku yakin, sahabatku ini akan menemukan banyak kebahagiaan..pasti :J
Juga, menyenangkan bisa memanggil seseorang di tengah hari yang sangat panas untuk direpotkan, mengantarku ke tempat ahli memberi obat, meski ia punya banyak hal yang harus dilakukan, tapi ia tetap datang dan aku senang melihatnya datang.. bahkan ia tak henti mengajakku untuk lebih mudah menghadapi semua lelah dengan banyak gurauan.. ya, aku juga pasti akan banyak melakukan hal untuk dia, agar ia selalu kuat dan tak pernah berhenti mengajak orang lain untuk menghadapi segala sesuatunya lebih mudah.. aku pun juga yakin, teman lucuku ini akan menemukan jalannya sendiri untuk menemukan senyumnya,bahagianya, dan kekuatan untuk dirinya sendiri :J
Dan tentu menyenangkan, sangat menyenangkan ketika ada seseorang yang tak pernah bosan karena terus aku datangi tak peduli apa yang sedang aku alami, hanya saja ketika aku sedang benar-benar lelah saat itu, aku tidak bisa datang.. Tapi ia dengan banyak kesempatan menarik lain yang bisa ia lakukan, ia memilih mau menemaniku berjalan pulang, dan meski panas terik mulai membuatnya berkeringat, ia justru makin cemas dengan keadaanku, dan selalu bertanya-tanya dalam khawatir akankah aku pingsan.. hahaha, ya aku bisa merasakannya hanya dengan melihatmu, dan tentu aku akan melakukan lebih dari sekedar berjalan kaki di tengah panas siang untuknya, lebih banyak, agar teman baikku ini tak lagi menjadi khawatir dan hanya akan tersenyum :J
Bahkan ketika malam kritis sebelumnya harus aku lewati seorang diri, wanita terhebat di seluruh jagad raya ini, meski hanya bagiku, dapat ku dengar suaranya..menyebut banyak produk dan merek yang harus aku minum supaya aku bisa kembali berlari dan tidak lagi lelah.. Saat itu aku tidak mau dan tidak bisa melakukan apa yang dia katakan, karena aku bahkan sudah terlalu lelah untuk pergi mencari semua yang disebutkannya, tapi kata-katanya lah yang menjadikanku berani dan yakin bahwa malam itu akan berlalu..dan malam itu pun benar-benar berlalu.
Meski lelahnya belum berakhir malam itu... Dan pagi hingga malam berikutnya aku justru makin banyak membuat orang lain repot..Seperti membelikanku makan di warung sebelah, mengantarku ke kampus untuk menempuh ujian, atau terus menanyaiku tentang keadaanku.. ah, aku harus lekas kuat kembali, karena aku sudah tak sabar melakukan banyak hal untuk mereka semua..
Awalnya aku tak tahu kalau gerhana akan terjadi pada malam itu, benar-benar tidak tahu, tapi aku merasa akan lebih baik kalau aku tidak buru-buru tidur.. dan aku mengalihkan pengaruh obat-obat itu dengan belajar tentang banyak arti dari kisah yang diperankan, ohoho..sebuah film konyol pada episode pertama tapi menguras airmata pada episode akhir, sungguh..
Nyatanya, pengaruh obat-obat itu tak hanya satu, tapi ada banyak yang salah satunya tak bisa kuhindari dan membuatku harus bolak-balik keluar kamar.. Saat itulah aku melihat bahwa bulan benar-benar sedang bagus. Entah karena insting atau naluri, lalu aku mencoba mencari tahu tentang yang akan terjadi malam itu, dan justru informasi itu datang sendiri, ya malam itu akan terjadi gerhana bulan total, gerhana yang baru akan terjadi, belum terjadi, tapi akan terjadi. Tanpa ragu aku bertekad untuk melihatnya, benar-benar melihat prosesnya. Maka aku mengerahkan tenaga yang tersisa untuk itu.. Sambil menunggu aku terus menatap ke langit yang rasanya lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Entah karena bintang-bintang tampak lebih sedikit, langit malam yang sangat cerah, dua guratan awan putih di sekitar bulan yang hampir bulat itu, atau mungkin karena bulan itu sendiri yang bersinar sangat terang dan mendamaikan hati.
Terlambat. Aku terlambat beberapa menit untuk melihatnya dari awal. Karena aku tak sanggup melawan rasa penasaranku untuk melihat kelanjutan dari film yang belum ku selesaikan. Ada sedikit sesal saat itu, tapi aku akan menebusnya dengan terus mengikuti proses yang tersisa sampai selesai.. Aku tak sendirian saat itu, ada beberapa orang duduk di samping kanan dan belakangku.. juga menatap gerhana itu dengan takjub, tapi tidak benar-benar menatapnya karena banyak hal yang juga mereka lakukan.. Dan aku menatapnya justru dengan banyak pikiran, dan terlalu lelah untuk banyak bergerak hingga aku hanya diam menatapnya..Meski dalam diam aku tak henti bertanya, tentang ini dan itu, entah bertanya pada siapa..mungkin pada diriku sendiri.. dan aku menjadi lelah, lagi, dan berhenti untuk terus bertanya, dan saat itu aku melihat sebersit sinar terang melintas sangat cepat tapi jelas di langit itu, ya tepat di depan mataku. Aaahhhh, itukah yang orang sebut bintang jatuh, itukah yang coba banyak orang tunjukkan di banyak kisah sebagai pengabul dari banyak keinginan dari orang yang meminta kepadanya ketika melihatnya melintas? Tapi bukan keinginan yang terucap pada saat itu, hanya kata “oh” berulang-ulang yang keluar dari mulutku. Terpesona bahkan sejak pertama melihatnya..
Oh bintang jatuh, kau justru membuat malam yang dingin itu semakin dingin dan kelu di tubuhku yang benar-benar sedang kelelahan.. Karena pesonamu yang membuatku langsung menyukaimu bahkan sejak awal melihat, mengingatkanku pada seseorang yang juga melakukan hal yang sama tanpa ia pernah tahu telah melakukannya..
Aku merinding, karena megingatnya dengan cara seindah itu sungguh sangat mudah membuat airmata ini jatuh..dan sudah terlalu banyak yang jatuh menetes.. Maka aku memfokuskan kembali pada bulan yang perlahan hilang itu.. Detik-detik berikutnya aku sedikit merubah posisiku dengan menunduk beberapa saat dan TAP! Saat aku kembali mengangkat kepalaku dan melihat bahwa bulan sudah sepenuhnya tertutup, aku melihat bahwa langit malam menjadi sangat kelam, gelap dan hitam, tidak menakutkan, tidak sama sekali.. Tapi justru sangat indah, karena aku bisa melihat banyak bintang, banyak sekali bintang yang beberapa jam yang lalu tampak lebih sedikit. Oh ya, ini mungkin terjadi. Karena bulan yang biasanya bersinar paling terang di langit itu untuk sejenak menjadi segelap langit dan memberi kesempatan pada bintang-bintang itu untuk diperhatikan. Dan bintang-bintang itu, yang ukurannya lebih kecil dibandingkan bulan, yang jarang diperhatikan orang ketika mereka menatap langit dengan bulan yang bersinar terang, kini tampak sangat bersinar..sinar yang mereka punyai sendiri, yang mereka miliki sendiri, yang keluar dari diri mereka sendiri. Mereka benar-benar indah. :J
Lalu aku berpikir kalau nanti bulan muncul lagi, dan pasti akan muncul lagi, pasti bintang-bintang ini akan kembali diacuhkan. Padahal mereka punya sesuatu yang benar –benar dari dirinya sendiri dan tetap setia di samping bulan yang lebih dari padanya dan yang selalu menjadi primadona langit malam. Tindakan yang bodoh, sungguh bodoh, tapi aku justru merasa lebih bodoh, lebih dari sekedar sangat bodoh daripada bintang-bintang itu..
Bukankah sangat naif untuk merasa seperti bintang, merasa telah melakukan yang juga dilakukan bintang, bahkan merasa telah melakukan lebih dari yang dilakukan bintang? ya, sangat naif. Karena aku memang melakukannya, tapi sambil menahan dan menyembunyikan. Menangisi semuanya ketika sendirian lalu kembali tertawa ketika bersama banyak orang dan mereka. Dan sungguh aku tak mau jadi perhatian orang-orang dengan kondisi menyedihkan itu hanya untuk mendapat ucapan “sabar ya”. Tapi aku melakukannya karena hati ini sangat sakit, sungguh sakit hingga airmata terus-menerus keluar. Dan aku akan terus tertawa, ya tertawa, karena aku tidak ingin melihat kalian merasa tidak enak hati terhadapku untuk melakukan yang ingin benar-benar ingin kalian lakukan, ya melakukan sesuatu untuk membuat kalian bahagia. Maka aku akan terus tertawa dan tersenyum dengan mata bengkak dan hidung merah, karena aku akan ikut bahagia ketika kalian bahagia.. Terdengar naif lagi bukan? Tapi aku tidak menemukan kata lain untuk menyebut apa yang aku rasakan. Karena aku juga tidak bisa menyembunyikan rasa sakitku, dan sakit ini sungguh sangat nyata. Mungkin akan lebih baik jika aku pergi jauh, sangat jauh dari sini. Mungkin akan lebih mudah.
Tapi bukankah ini semua kesalahanku? Salahku bahkan sejak awal karena terlalu percaya diri dan membiarkan arus membawaku serta membuatku melakukan hal-hal yang tak biasa dilihat orang-orang. Bukankah kalian heran ketika aku benar-benar melakukannya? Karena aku sendiripun heran..
Yang aku tahu hanyalah, bahwa yang aku rasakan sungguh hebat, mengasyikan dan membuat semua sendiku selalu ingin bergerak, tak peduli, tak khawatir, tak takut.. Dan ketika ditanya alasanku melakukan itu semua, aku justru kebingungan untuk mendapatkan jawabannya. Karena rasanya alasan itu sangat banyak hingga tak mampu aku ucapkan semua atau tak ada alasan sama sekali yang aku punya untuk ku ucapkan. Tak ada alasan. Hanya merasa. Sesuatu.
Sesuatu itu sungguh luar biasa. Aku bisa kuat membawa tas yang cukup berat untuk ukuran tubuhku sendiri dan tetap membawanya sambil tersenyum bahkan memaksa diri tetap kuat membawanya naik dan turun melewati jalanan ekstrim agar ia tak perlu membawa, karena sesuatu itu. Aku bisa langsung berlari tanpa berpikir ke lantai 4 setelah aku sampai dan baru saja sampai ke lantai dasar untuk melihat karya itu, juga karena sesuatu itu. Aku bisa tahan beberapa menit, hampir satu jam, berdiri menempelkan dahi ke tralis besi pelindung kaca jendela di lantai 3 untuk melihat segerombol orang sedang duduk di lantai 2, pun karena sesuatu itu. Aku bisa memikirkan banyak kata di depan kertas dan pena lalu menuliskannya dengan rima yang indah di malam hari, itu mungkin karena aku berbakat, hahaha, tapi hal itu sangat jarang aku lakukan sebelumnya, mungkin sesuatu itu juga mengambil perannya. Dan yang aku sangat bisa adalah menelan bulat-bulat rasa malu ku dan mengatakan ini itu kepada orang-orang yang saat itu bahkan belum aku kenal, sepertinya juga karena sesuatu itu. Tapi apa ini? Apa sebenarnya sesuatu itu? Haruskah aku bertanya-tanya pada orang lain? Apakah aku memang benar-benar tidak tahu sesuatu seperti itu?
Padahal aku pernah merasakan yang mirip dengan sesuatu itu sebelumnya, hanya berbeda di beberapa potongan episode. Ya, tanggungjawab yang aku pikul sampai ke kota ini membuatku tidak mudah untuk mendefinisikan sesuatu ini dalam bahasa yang lebih lugas. Dan tentu ada banyak hal lain yang menjadi pertimbangan, akankah aku layak untuk itu? Pantaskah aku? Takutkah aku? Aku?
Aku yang seperti biasanya tak pernah berpikir terlalu lama untuk memutuskan, memejamkan mata sejenak dan mencoba mendengar, dan yang kudengar adalah suara aliran air yang cukup deras, dan itu menjadi pemicu yang cukup bagiku untuk maju. Tak akan lagi mundur. Tak akan bisa kembali.
Meski aku harus tetap kembali ke tempat aku mendapat inspirasi itu untuk waktu yang tetap tentu karena memang aku perlu datang ke sana tiap harinya. Ah, tak perlu disebutkan tempat apa itu. J
Maka aku menangkap angin, memegangnya erat, dan siap tuk terbang kemana pun ia akan membawaku. Menggenggamnya. Dan itulah yang sudah kulakukan. Yang rupanya sekarang menjadi sebuah kesalahan yang tak bisa ku bantah. Ya, ini kesalahanku. Pada titik inilah aku telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang tak pernah kusesali. Karena menyesalinya seperti seharusnya kesalahan untuk disesali, membuatku merasa bagaikan menatap bulan di langit itu yang sudah sepenuhnya tertutup dan mengaguminya tanpa pernah melihat keindahan bulan sebelum terjadi gerhana. Sangat bodoh. Setidaknya dengan melihat keindahan bulan sebelum gerhana akan membuat siapapun yang melihat bulan itu lenyap merasa kehilangan. Rasa kehilangan itu bisa membuat orang jenuh dan pergi sebelum bulan kembali bersinar seperti semula. Atau, juga bisa membuat seseorang terus menunggu bulan itu muncul lagi karena merasa sangat kehilangan dan ingin melihatnya lagi. Lagi. Dan lagi. Seperti itu maka aku tak kan menyesali. Tak akan pergi. Meski kehilangan. Ingin melihatnya lagi. Dan menunggu.
Perlahan, sangat perlahan, bulan kembali. Waktu yang berjalan sangat lambat rupanya mampu merobohkan beberapa orang yang tadinya ada di sekitarku. Rasa kantuk menyerang mereka dengan caranya yang sungguh hebat. Tinggallah aku sendiri di situ. Di tempatku berdiri. Sejak sejam yang lalu mungkin. Aku sempat bertanya-tanya, sampai kapan aku akan terus begini? Sampai kapan aku akan kuat untuk seperti ini? Dan pada detik berikutnya aku sadar kalau aku harus bisa membuat diriku untuk pergi. Sebentar saja. Untuk beristirahat. Sejenak.
Lalu ku mendapati diri merebahkan tubuhku yang kedinginan di tempat tidur yang cukup hangat. Benar-benar nyaman dan membuat hati menjadi lebih tentram. Tanpa khawatir.
Hampir terlelap saat itu, saat dimana sebuah rekaman memori terputar ulang di otakku. Bunyi tetes air yang deras dan langkah-langkah kaki orang yang berjalan mondar-mandir di hadapan kami, terasa sangat nyata. Mungkinkah aku sudah mulai bermimpi? Tapi bukankah ini pernah aku alami? Ya, aku sangat ingat kejadian waktu itu. Di kampus. Menunggu hujan sedikit mereda. Aku melihatnya benar-benar gugup. Meminjam buku yang sedang ku pegang dan terus-menerus membolak-balikan halaman secara cepat. Aku yakin dia tidak sedang mencoba memahami isi buku itu dengan sekilas.
Buku itu bahkan tidak berisi kisah-kisah yang membuat khayal melambung tinggi, hanya rumus-rumus dan hukum-hukum tertentu dari sebuah ilmu. Aku tahu dia gugup. Melihatnya seperti itu tanpa sebab yang jelas membuatku heran. Beberapa kali aku menolehkan kepala untuk tersenyum. Ia sangat lucu. Dan aku tersenyum. Ah ya, aku tesenyum. Cukup aneh, karena ada banyak orang di sana. Berjalan mondar-mandir dan beberapa terus berbicara. Tapi momen itu terasa melambat sejak aku sadar kalau aku sedang tersenyum. Bahkan orang-orang yang sedang berjalan itu seolah sedang ada dalam sebuah film yang bergerak sangat lambat (read: slow motion), dan aku yakin film ini cukup terkenal. Kali ini cukup berlebihan bukan? Kenyataannya memang tidak terjadi seperti itu, hanya seolah. Memikirkannya secara sepihak seperti ini sungguh menggelikan. Karena tak ada yang tahu apakah ia, yang duduk di sana sambil bergerak dengan gelisah seperti membenarkan letak kacamatanya padahal kacamatanya berada di tempat yang sudah seharusnya, juga memikirkan hal yang sama. Yang paling mungkin adalah menebak. Dan tebakan terbaikku adalah ia terus berdoa agar hujan cepat reda sehingga ia bisa cepat pergi dari temapt itu. Pergi menjauhiku. Pergi.
Lekas aku bangun dan berjalan cukup cepat keluar kamar. Tubuhku benar-benar sedang lelah tampaknya, karena kepalaku langsung pusing ketika aku bangun. Aku berdiri di tempat yang sama sewaktu gerhana bulan terjadi. Tapi kemana bulan itu? Aku sudah tidak bisa melihatnya lagi dari tempatku berdiri. Mungkin aku perlu melompat untuk bisa melihatnya lagi. Dan aku melompat. Beberapa kali melompat hingga mual rasanya. Namun bulan sudah tak terlihat lagi dari sini. Dari tempatku berdiri. Pandanganku terhalang sebuah tembok yang cukup tinggi. Cukup tinggi dan kuat. Haruskah aku mencari tempat lain? Perlukah aku mencari tangga? Atau sanggupkah aku untuk merobohkan tembok itu?
Jawabannya tidak. Aku tak lagi punya kekuatan sebesar itu. Aku sudah benar-benar lelah. Lelah ini tak hanya membuatku kehilangan energi. Lelah ini juga telah membuat mataku terlalu banyak mengeluarkan air. Sakit. Karena sakit. Aku lelah.
Hanya tak ingin melihat bulan itu pergi dan aku melompat. Hanya tak ingin melihatnya menjauh dan aku terus melompat. Berusaha agar aku bisa melihat. Bisa dilihat. Hingga lelah.
Dengan wajah lesu aku kembali ke kamar. Berdoa. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan untuknya sekarang. Hanya membiarkannya. Merelakannya. Melepaskannya. Dan aku akan ada di sini, di kamarku, menunggu hingga malam esok tiba. Berharap agar bulan masih bersinar terang di langit. Karena aku ingin melihatnya lagi. Ingin melihatnya terus. Meski hanya dari tempatku berdiri di sini. Dari jauh. Seperti memang seharusnya aku berada. Jauh darinya. Agar ia tak pernah lagi terganggu. Agar ia selalu bisa terlihat seperti biasanya. Terlihat lucu dan membuatku tersenyum diam-diam. Ya, melihatmu dari jauh. Tak perlu ada yang tahu. Tak perlu ada yang terluka.
Cukup aku..
Hanya aku..
Aku..
Yang melihatmu dari jauh..
Oh bulan..

