Kamis, 08 September 2011

Hampir


Untuk yang kali ini aku hampir benar – benar kehilangan kendali.

Dia lagi – lagi membuatku merasa terlindungi. Bisa – bisa aku jadi ketagihan dengan perlakuan seperti itu. Karena aku menikmatinya.

Ah, sudahlah. Bagaimanapun seleranya takkan bisa diubah, juga aku takkan bisa jadi seperti yang dia selerakan. Aku tak mau.

Satu yang selalu kudoakan. Aku sungguh ingin menunjukkan pada pemuda ini tentang cinta. Dengan atau tanpa aku, aku ingin ia benar – benar merasakan indahnya cinta hingga membuatnya gila. Ia sudah terlalu banyak bermain – main tentang cinta.

Tapi, yang susah adalah, bagaimana aku menunjukkan cinta tanpa aku harus mencinta? Untuk itu, aku selalu mengendalikan perasaanku sendiri saat bersamanya.

Meski malam ini, aku hampir kehilangan kendali.

Suatu saat nanti, kamu pasti akan menemukan seorang wanita yang membuat hidupmu jungkir-balik. Membuatmu penasaran dan bingung tentang perasaanmu sendiri hanya karena senyumannya padamu. Membuatmu merindukannya bahkan saat sedang menatap kedua matanya.

Dan kalaupun benar aku sudah jatuh cinta tanpa kusadari, aku akan diam. Aku kan membuatmu mengerti dulu. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk tak mengaku.

Surakarta, 22 Agustus 2011

Aku Ingin Jadi AKU

Aku ingin menjadi diriku yang dulu. Yang hanya menginginkan satu titik di depan sana. Merasa berbeda membuatku kehilangan perasaan nyaman menjadi diri sendiri. Sungguh, aku ingin kembali seperti dulu. Aku yang tak tahu hal – hal sebanyak sekarang.

Bagaimana aku bisa kembali menjadi aku yang dulu? Menghapus ingatan atau memutar kembali waktu yang telah lewat? Tak adakah cara logis yang bisa aku coba untuk lakukan? Selain bertanya seperti ini?

Dulu semuanya sangat mudah bagiku. Karena bahkan ketika aku menutup mata, aku bisa melihatnya dan yakin dengan apa yang aku rasakan. Tidak kebingungan seperti sekarang. Terlalu banyak yang muncul di pikiranku, bahkan tanpa aku menutup mata.

Untuk kamu, apakah aku terlalu berlebihan dalam menetapkan standar pilihanku? Apakah aku terlalu menakutkan untuk sekedar diperjuangkan? Tapi kenyataanmu sungguh mengangguku. Siang dan malam.

Untuknya, apakah ini semacam permainan yang sudah sering ia mainkan? Apakah ia akan memainkannya denganku? Apakah aku pantas? Bahkan jika ini benar hanya sebuah permainan untuknya, lalu kenapa ia tidak sepenuhnya bermain? Seharusnya ia tidak pernah memulai, karena sekarang aku sungguh sulit untuk mengakhirinya.

Dan untuk dia, apakah ada hati yang melebihi kerasnya batu? Mungkinkah seperti itu hatinya? Atau aku hanya sedang diberitahu bahwa di dunia ini ada hal – hal yang tak bisa dipaksakan? Apa? Apa aku memaksa dia? Inginku hanya menunjukkan, dan seharusnya dia tahu apa yang aku telah lakukan melebihi apa yang ingin aku tunjukkan. Karena aku telah merasakan sesuatu yang melebihi perasaanku sendiri. Meski sekarang, aku harus meregangkan ikatan ini. Melonggarkannya perlahan seiring perih agar aku bisa melepasnya.

Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Tidak pernah memikirkan sebanyak yang aku pikirkan sekarang. Walaupun aku dulu juga berpikir, tapi aku melakukannya tanpa kebingungan. Aku tahu pasti titik mana yang akan jadi arahku. 
Tidak seperti sekarang. 
Aku terus mencari..