Selasa, 13 Desember 2011

Catatan Ke-51

ini pria yang kukenal di ujung mudaku
entah benar benar sudah di ujung, atau hanya aku yang merasa begitu
tapi rasa yang ada sekarang sungguh berbeda
pria ini membuatku selalu kebingungan

dia sering bilang kalau aku membosankan, garing, mungkin sebentar lagi jadi tak menarik
namun, hai pria, aku tak bohong ketika aku berkata bahwa kau membuatku merasakan hal berbeda dari yang sebelumnya
dan ketika suatu saat nanti kau jadi tak peduli lagi tentang kebodohanku
bahkan berhenti untuk mengatakan hal hal yang semestinya kulakukan,
aku mau kau tetap tahu, kalau aku sayang padamu
dan mencintaimu adalah sebuah perjalanan yang sedang kutempuh dengan segenap hati yang ku punya..

surakarta, 20 november 2011
malam sepi *setelah menguras keberanian utk menelponnya* yang kuhabiskan dengan mem'bodoh'i diri sendiri sampai pagi :'o

loving you, honestly, A.


Kamis, 08 September 2011

Hampir


Untuk yang kali ini aku hampir benar – benar kehilangan kendali.

Dia lagi – lagi membuatku merasa terlindungi. Bisa – bisa aku jadi ketagihan dengan perlakuan seperti itu. Karena aku menikmatinya.

Ah, sudahlah. Bagaimanapun seleranya takkan bisa diubah, juga aku takkan bisa jadi seperti yang dia selerakan. Aku tak mau.

Satu yang selalu kudoakan. Aku sungguh ingin menunjukkan pada pemuda ini tentang cinta. Dengan atau tanpa aku, aku ingin ia benar – benar merasakan indahnya cinta hingga membuatnya gila. Ia sudah terlalu banyak bermain – main tentang cinta.

Tapi, yang susah adalah, bagaimana aku menunjukkan cinta tanpa aku harus mencinta? Untuk itu, aku selalu mengendalikan perasaanku sendiri saat bersamanya.

Meski malam ini, aku hampir kehilangan kendali.

Suatu saat nanti, kamu pasti akan menemukan seorang wanita yang membuat hidupmu jungkir-balik. Membuatmu penasaran dan bingung tentang perasaanmu sendiri hanya karena senyumannya padamu. Membuatmu merindukannya bahkan saat sedang menatap kedua matanya.

Dan kalaupun benar aku sudah jatuh cinta tanpa kusadari, aku akan diam. Aku kan membuatmu mengerti dulu. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk tak mengaku.

Surakarta, 22 Agustus 2011

Aku Ingin Jadi AKU

Aku ingin menjadi diriku yang dulu. Yang hanya menginginkan satu titik di depan sana. Merasa berbeda membuatku kehilangan perasaan nyaman menjadi diri sendiri. Sungguh, aku ingin kembali seperti dulu. Aku yang tak tahu hal – hal sebanyak sekarang.

Bagaimana aku bisa kembali menjadi aku yang dulu? Menghapus ingatan atau memutar kembali waktu yang telah lewat? Tak adakah cara logis yang bisa aku coba untuk lakukan? Selain bertanya seperti ini?

Dulu semuanya sangat mudah bagiku. Karena bahkan ketika aku menutup mata, aku bisa melihatnya dan yakin dengan apa yang aku rasakan. Tidak kebingungan seperti sekarang. Terlalu banyak yang muncul di pikiranku, bahkan tanpa aku menutup mata.

Untuk kamu, apakah aku terlalu berlebihan dalam menetapkan standar pilihanku? Apakah aku terlalu menakutkan untuk sekedar diperjuangkan? Tapi kenyataanmu sungguh mengangguku. Siang dan malam.

Untuknya, apakah ini semacam permainan yang sudah sering ia mainkan? Apakah ia akan memainkannya denganku? Apakah aku pantas? Bahkan jika ini benar hanya sebuah permainan untuknya, lalu kenapa ia tidak sepenuhnya bermain? Seharusnya ia tidak pernah memulai, karena sekarang aku sungguh sulit untuk mengakhirinya.

Dan untuk dia, apakah ada hati yang melebihi kerasnya batu? Mungkinkah seperti itu hatinya? Atau aku hanya sedang diberitahu bahwa di dunia ini ada hal – hal yang tak bisa dipaksakan? Apa? Apa aku memaksa dia? Inginku hanya menunjukkan, dan seharusnya dia tahu apa yang aku telah lakukan melebihi apa yang ingin aku tunjukkan. Karena aku telah merasakan sesuatu yang melebihi perasaanku sendiri. Meski sekarang, aku harus meregangkan ikatan ini. Melonggarkannya perlahan seiring perih agar aku bisa melepasnya.

Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Tidak pernah memikirkan sebanyak yang aku pikirkan sekarang. Walaupun aku dulu juga berpikir, tapi aku melakukannya tanpa kebingungan. Aku tahu pasti titik mana yang akan jadi arahku. 
Tidak seperti sekarang. 
Aku terus mencari..

Senin, 15 Agustus 2011

I Hope That I've Never Been There




Aku merindukan kalian. Benar – benar rindu akan masa itu.



Sebelum itu semua terjadi, aku berdoa agar aku memiliki kesempatan untuk merasakan sesuatu yang sering dirasakan oleh kebanyakan orang normal. Dan setelah itu aku alami, aku tak lagi berdoa agar itu tetap bertahan. Aku tahu kalau saat itu aku lalai untuk mempertahankan apa yang sudah aku punya. Aku tak menggenggamnya sekuat yang aku mampu.



Sekarang ketika aku merindukanmu, ia dan dia, aku sadar bahwa aku tak pantas. Apakah aku mengalami krisis percaya diri? Apakah aku terlihat seperti orang yang tak punya kepercayaan akan diri sendiri? Mungkin saja. Aku hanya merasa tak pantas.



Terlepas dari faktor internal-eksternal dari diriku sendiri, aku tahu bahwa aku harus memperhatikan perasaan banyak orang. Aku tak mau jadi seperti dia yang sering memberi umpan tapi tak pernah mau mengangkat kailnya. Harapan palsu. Juga, aku tak mau jadi orang yang diberi sesuatu seperti itu. Kalian juga mustinya hati – hati. Jika orang lain yang kalian beri umpan seperti itu, bisa jadi mereka merasa kecewa yang begitu dalam. Terlebih jika mereka adalah orang yang menghargai ketulusan.



Tapi aku, adalah orang yang takkan menyakiti kalian dengan kekecewaanku. Kalian tentu tahu, banyak orang yang kecewa bisa melakukan hal – hal yang tidak masuk akal. Dan kalian begitu berarti dalam hidupku. Itu sebabnya aku merindukan kalian.



Meski tak hanya tawa yang kalian ukir dalam hidup di siang hari dan juga mimpi -  mimpi dalam tidurku. Jelas ada sakit dan tangis. Tapi aku menghargai tiap rasa itu sebagai ukiran yang akan memperindah tiap lekuk kisah hidupku. Untuk itu aku berterimakasih.



Dan tentang perasaan rinduku ini, sebenarnya aku tidak pernah menyangka kalau rupanya aku benar – benar merindukan kalian. Ini berawal dari rasa hilang yang mengangguku terus – menerus sepanjang waktu. Entah saat mataku terbuka atau bahkan tertutup dan terbuka lagi.



Aku berpikir dan merenungkan semua gejalanya. Ini jelas suatu penyakit. Ya, aku mengakui kalau aku ternyata sedang merindukan kalian. Aku merasa seharusnya kalian tak mengetahui tentang ini semua. Aku khawatir kalian justru merasa bersalah. Padahal aku yang salah.



Semakin aku merindukan kalian, semakin aku merasa bersalah. Dan semakin pula aku sadar kalau aku harus mundur. Perlahan, aku ingin kalian melupakan tentang adanya aku. Aku tahu kalau ini akan sulit, karena aku tetap ada dan keberadaanku jelas terlihat di sekitar kalian.



Aku memang tetap akan ada di depan mata kalian, tapi aku mencoba untuk hilang dari hadapan hati kalian. Karena aku merindukanmu, ia dan dia. Tolong jangan coba untuk merasakan apa yang aku rasakan, karena ini rumit.



Minggu, 17 Juli 2011

Teruntuk Sahabatku


Teruntuk sahabatku. . .

Kamu tahu apa yang sedang terjadi padaku? Merasa sangat, sangat bersalah. Melakukan yang seperti ini padamu, meski kamu bilang “gapapa”, tapi aku sudah hidup lebih lama daripadamu. Aku merasa bahwa kamu tidak sedang dalam keadaan sebaik apa yang kamu katakan.

Mengatakan, secara tidak langsung, hal – hal yang kemarin kukatakan padamu sama rasanya seperti yang aku rasakan pada ikan cupangku. Karena sesuatu yang sudah menjadi sifatku membuatku tak bisa memperlakukanmu seperti yang seharusnya aku lakukan.

Aku hanya tak mampu merubah apa yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Dan aku selalu meneriakki diriku sendiri yang seperti ini. Karena tiap kali aku memejamkan mata sejak malam itu, wajahmu yang gugup sewaktu mengatakannya selalu muncul. Apa ini? Tampaknya aku telah menjadi orang terbodoh di dunia yang berlari sambil menangis, tidak ingin pergi, tapi tetap berlari.

Takkan pernah lelah aku berterimakasih padamu atas semua kebaikanmu ini. Apapun ingin kulakukan untuk membalasnya. Dan yang akhirnya kamu minta justru suatu hal yang kamu lakukan untukku, lagi. Kamu tahu, dengan mengabulkan hal yang kamu minta hanya akan menambah rasa terimakasihku padamu. Padahal yang ingin aku lakukan adalah sesuatu untukmu, bukan untukku.

Apakah mungkin kamu benar – benar berpikir bahwa aku pasti akan pergi dan tak kembali? Ya, hal itu memang mungkin akan terjadi. Tapi sepertinya kamu sedang lupa. Lupa tentang siapa diriku sebenarnya.
Mungkin kamu lupa, kalau aku adalah seseorang yang takkan bisa berhenti untuk memperjuangkan mimpi – mimpi.

Sepertinya kamu lupa, kalau aku adalah seseorang yang tak perlu pertanyaan – pertanyaan kekhawatiran tentang keadaanku.

Tampaknya kamu memang lupa, kalau aku adalah seseorang yang tak mempan dengan kata – kata.

Bisa juga kamu lupa, kalau aku bukan orang yang mudah berbalik arah.

Andai saja kamu ingat, bisa jadi ponsel kita masih berdering hingga detik ini sebagai tanda bahwa ada pesan singkat yang panjang berisi cerita yang kita bagi bersama.

Dan ini bukan salahmu, aku tahu. Semua orang juga selalu berkata begitu padaku. Harusnya mereka pun tahu, kalau aku tak pernah sedikitpun menyalahkanmu.

Aku menyalahkan diriku sendiri.

Karena aku tak mampu mengubah diriku sendiri untuk membuat hari – hari kita kembali dipenuhi gelak tawa. Aku akan merindukan saat – saat seperti itu mulai sekarang.

Satu hal yang sering aku coba sampaikan padamu, seandainya kamu bisa mengerti, kalau saat ini aku benar – benar tidak bisa memperlakukanmu melebihi perlakuan terhadap sahabat. Tapi sering kali, sahabat punya arti yang lebih dari apapun.

Kamu ingin dekat denganku, padahal aku sudah sangat dekat dengamu dari awal. Kamu ingin menjadi orang yang paling dekat denganku, padahal kamu termasuk di barisan terdepan dari orang – orang terdekatku. Dan kamu juga ingin jadi orang yang berarti bagiku, padahal dirimu sungguh berarti dalam hidupku. Lalu apa yang bisa aku berikan padamu? Lagi – lagi, aku masih tak bisa melakukan sesuatu untukmu sebagai balas budiku.

Jika kamu memang perlu tahu, aku sedang dan masih menunggu seseorang sekarang. Seseorang yang takkan menyerah hanya karena berada dalam situasi, waktu dan cara yang tak tepat. Seseorang yang gigih, melebihi kegigihanku terhadap dia yang saat ini masih ada di hatiku. Seseorang yang memperlakukanku dengan salah, tapi tetap melakukannya meski aku sudah melarangnya, semata – mata karena ia memang ingin melakukannya dan berusaha menunjukkan padaku tentang arti ketulusan. 
Seseorang yang tahu bagaimana memberikan perhatian yang sesuai untuk orang sepertiku. Seseorang yang sanggup mengubah dirinya menjadi lebih berani dari dirinya sendiri untuk bisa melindungi orang yang seberani aku. Seseorang yang takkan kalah dariku dalam hal memperjuangkan cinta.

Untuk sekarang, kamu memang bukan seseorang itu. Tapi kemungkinan bagimu untuk jadi seseorang itu masih ada, jika kamu mau.

Dan mungkin kamu takkan mau, karena aku hanyalah seorang biasa, yang tak punya kulit seputih orang Eropa, yang hidungnya tak semancung orang Arab, yang kakinya tak sejenjang orang Mesir, yang otaknya tak sepintar orang Jepang dan yang kebiasaannya tak seperti perempuan pada umumnya (rajin mandi, suka luluran, selalu wangi, pakai baju feminin, dan tak lupa menyisir rambut).

Orang sebaik kamu, sahabatku, pasti bisa mendapatkan yang tidak seperti aku. Ini juga yang aku pikirkan dulu sewaktu kamu pertama kali “menolakku”. Cukup menyakitkan sebenarnya sewaktu kamu bahkan takut terhadapku. Dan aku berjuang sekeras mungkin untuk menjadi orang yang tak menakutkan bagimu dan bisa membuatmu tersenyum, bahkan tertawa. Setelah itu semua berhasil aku lakukan, kamu justru baru membuka matamu sangat lebar hingga benar – benar melihatku. Tapi waktu tak bisa diputar ulang. Kini giliranmu, akankah kamu berjuang sekeras mungkin, sama atau bahkan lebih keras dariku, untuk membuatku kembali melihatmu seperti saat pertama kali aku melihatmu? Aku takkan berharap agar aku takkan sakit dan menyakitimu.

Hanya ingin kamu tahu, kalau aku mulai merindukanmu. . .

Terimakasih, sahabatku. . . :)

Sabtu, 16 Juli 2011

Aku Menyakitinya (Cupangku Si Topik Kecil)


Aku memang bukan seseorang yang rajin merawat diri. Jarang mandi. Malas mencuci. Kadang tidak suka wangi.

Tapi aku juga punya hati, bisa menyayangi. . .
Kali ini aku menulis tentang bagaimana aku bisa sampai akhirnya memiliki seekor hewan peliharaan. Sungguh sejak lama aku sudah ingin punya seperti yang satu itu. Peliharaan. Tapi setiap aku meminta, alasan yang paling pertama disebut adalah yang aku tulis di awal kisah ini. Aku bukan orang yang pandai merawat diri, bisa dibayangkan bukan jika aku merawat makhluk hidup lain yang tidak bisa berkomunikasi secara verbal denganku. Meski lebih banyak rayuan, tetap saja aku tidak diijinkan. 

Terlebih lagi tentang bagaimana caraku untuk memberinya makan.
Oh, baiklah. Dan selama bertahun – tahun hidupku berjalan, aku hanya bisa memendam rasa gemasku ketika melihat hamster – hamster yang berlarian di roda putarnya, atau menangisi kucing yang mati ditabrak mobil di jalanan. Bahkan ketika sebuah praktikum keilmuan yang mengharuskan dan menghalalkan membunuh binatang sebagai bahan percobaan itu, aku tak sampai hati melihatnya disembelih paksa dan dikoyakkan seisi perutnya. Sadis. Demi sebuah ilmu pengetahuan, nyawa dianggap remeh. Tapi aku tidak berhak untuk mempermasalahkannya disini, bukan? Aku hanya ingin memberitahu kalian kalau aku memang tak tega melihatnya.

Lalu sebuah pelatihan yang aku ikuti rupanya membukakan sebuah kesempatan bagiku untuk mendapat sebuah momongan. Haha.. Bukan seorang anak manusia tentunya, hanya seekor ikan cupang betina. Tak menyangka, tapi aku berterimakasih.
Karena aku memang tidak punya pengalaman dalam memelihara, maka aku hanya melakukan yang aku tahu harus dilakukan. Seperti memberinya makan dan mengganti air dalam wadah ikannya yang mirip botol stoples itu. Tak lupa pula aku memberinya nama. Sebenarnya ikan ini sudah diberi nama ketika diberikan padaku sebagai award waktu itu. Tapi aku tak begitu suka dengan namanya dan secara spontan aku menggantinya dengan sebuah nama yang entah terlintas atau memang selalu ada di otakku. Entahlah, jangan membahas sekarang.

Melihatnya bisa bertahan dengan cara pemeliharaanku, maka aku senang. Mengajaknya mengobrol dan memaksanya untuk melihatku menangis. Seiring berjalannya waktu, aku merasa diantara kami ada chemistry yang terjalin. Mungkin hanya perasaanku. Tapi aku harus mengatakan bahwa aku memang menyayanginya. Ini diluar konteks nama yang kuberikan pada ikan cupangku itu ya. Aku serius.

Kemudian aku menjadi lupa waktu dan sering meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama untuk jadwal pemberian makannya, juga terlalu lama untuk jadwal penggantian airnya. Sedikit khawatir, tapi aku merasa ia baik – baik saja. Melihatnya masih pecicilan berenang kesana kemari di rumahnya yang tidak besar itu. Aku menjaganya untuk tidak stress dengan mengajaknya bicara layaknya sesama manusia. Mungkin jadi aku yang terlihat stress karena pada kenyataannya aku hanya bicara seorang diri.

Benar – benar kaget ketika semalam aku melihat keadaan ikan cupangku dengan mata bengkak dan insang yang tak bisa menutup seperti biasa. Aku merinding melihatnya dan mengingat kondisinya juga waktu menuliskan ini. Ia sedang tidak sehat. Waktu yang sudah larut malam membuatku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa segera mengganti airnya dan memberinya makan. Tapi ia tetap tidak mau makan. Diam – diam menangis dan akhirnya aku tertidur. Tidurku menjadi tidak nyenyak malam tadi, sungguh.

Terbangun esok harinya dan melihat kondisinya yang benar – benar membuat pilu hatiku, membuyarkan konsentrasi terhadap tanggung-jawabku dan beberapa hal lain yang seharusnya lebih aku perhatikan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Merasa sangat bersalah membuatku merinding dari ujung kaki hingga kepalaku.

Hari ini aku lalui dengan setengah fokus. Semua berkata bahwa aku harus mulai mengikhlaskannya. Ingin berkata pada mereka bahwa mereka itu kejam dan tidak berperasaan. Tapi mereka hanya tak tahu bagaimana rasanya menjadi aku.

Saat kembali dan melihatnya masih bertahan, sebuah kekuatan muncul pada diriku untuk melakukan suatu usaha untuk mempertahankan hidup ikan cupangku. Aku mencuci bersih wadahnya dan segera pergi membeli obat yang lumayan jauh tempatnya. Selama perjalanan itu, aku selalu merinding. “Jangan mati dulu !”, begitu pikirku terus – menerus.

Sekarang, aku hanya berharap dan berdoa. Ikan cupang memang banyak dijual dan dikembangbiakan. Jika mati satu, masih ada seribu di pasar sana. Tapi, ikan cupangku yang satu ini adalah peliharaanku yang pertama. Biarlah aku melakukan semampuku untuknya. Karena seekor ikan cupang yang bernyawa, ia tetap ciptaan Yang Kuasa.

Maafkan aku ikan cupang, maafkan aku topik kecil.. T.T

Tetaplah kuat dan bertahanlah, meski sakit begitu kau rasa..
‘Gar aku juga takkan kalah ataupun mengalah..


*lalu bagaimana dengan ayam goreng ato bahkan ikan bakar yang aku makan itu? hemm.. itu lain kisahnya >,<

Selasa, 12 Juli 2011

Out Of Focus


Kutulis ini saat aku mengalami sebuah kegundahan, kawan..

Galau yang dulu merasuk ke hati ini rupanya merupakan sebuah awal dari kisah baru yang menambah daftar pengalaman hidupku sekarang.

Galau itu menggerogoti hari – hariku dengan kebutuhan akan seseorang yang bisa mengisi ruang kosong hati ini. Meski butuh, tapi aku tak sedang mencari. Aku terlalu khawatir untuk tidak menemukannya. Dan orang bijak pernah berkata sesuatu yang cukup bagus, “tak perlu mencari cinta, karena cinta yang akan menemukanmu”. Tidak bermaksud membenarkan perkataan bijak itu, hanya saja aku mendoakan agar itu benar adanya.

Sungguh, aku menjalani hari – hari galau itu seperti seorang aku yang biasa. Aku tidak mencoba memutihkan kulit atau menambah tingkat seringnya mandi tiap harinya. Bahkan aku masih tetap menjalani ritual liburanku, tidur larut malam dan bangun kesiangan. Ah, aku benar – benar menikmati momen untuk jadi diriku sendiri itu.

Saking asyiknya, aku sampai tak sadar jika ada sesuatu yang berbeda. Perlakuan mereka. Awalnya aku biarkan saja. Tapi kemudian efek galau yang adalah mudahnya jadi ge-er melandaku. Semakin mereka sering membuatku jadi nyaman, semakin pula aku ke-ge-er-an. Ya, mungkin kalian tak bermaksud menjadikanku merasa seperti itu. Tapi harus kuakui, aku ge-er, kawan.

Kemudian aku mengendalikan otakku untuk tidak memikirkan yang biasanya terpikirkan oleh perempuan yang kalian perlakukan seperti ini. Meski aku sadar bahwa aku juga adalah seorang perempuan, tapi setidaknya dari segi fisik dan tabiat aku sungguh berbeda dengan mereka – mereka yang mudah menarik perhatian kalian, bukan? Cukup tahu diri dan aku menepis semua harapku yang sewajarnya muncul.

Tak sulit bagiku untuk mengendalikan semua itu, bukan berniat sombong, tapi aku memang sudah pernah mengendalikan yang lebih sulit daripada ini. Dan rupanya, hanya aku yang bergerak melawan arus. Kalian, sadar atau tidak, membiarkan arus itu membawa kalian dan bahkan mulai menikmatinya. Apa aku berhak untuk menghentikan kalian? Tidak. Karena aku tidak tahu sama sekali alasan kalian berbuat ini padaku. Bahkan aku tak sanggup bertanya. Lagi – lagi, aku tak ingin kalian salah paham dan menganggapku perempuan yang mudah ge-er juga sangat tidak mengasyikkan. Aku tak ingin kehilangan sosok kalian, sungguh.

Kecurigaan mulai muncul. Aku mungkin bisa menyembunyikan semua curiga dari diriku sendiri. Tapi banyak mata melihat, banyak pula curiga muncul. Apa aku bisa menghentikan semua kecurigaan itu? Jawabnya pun tidak. Karena curiga bukan untuk dihilangkan, tapi untuk dijawab layaknya sebuah pertanyaan. Tak adanya jawaban dariku lalu memancing persepsi masing – masing yang setelah mendengarkannya membuatku semakin ge-er. Sangat ge-er. Terlebih ketika kalian tetap meneruskan perlakuan yang sangat membuatku nyaman ini.

Waktu berlalu. Aku kemudian merasa telah kehilangan kendali atas perasaanku sendiri. Out of focus. Gelagatku bahkan mirip sekali dengan ababil yang sedang terjangkit virus merah jambu. Mimpi – mimpiku mulai aneh. Lagu yang kudengar juga makin menjurus ke sebuah keadaan. Kawan, disini aku ingin memberitahu kalian, bahwa merasa ge-er bisa berujung pada jatuh cinta. Dan itu gawat. Bagaimana kalau sampai aku benar – benar jatuh cinta pada kalian?

Memikirkannya sekarang justru lebih memusingkan kepala dibanding kegalauan yang lalu.

Setidaknya kalian akan lebih bisa membantuku untuk menentukan sikap jika kalian sendiri juga memastikan jenis dan macam perlakuan apa yang sedang kalian lakukan padaku. Kepastian yang tak begitu jelas menyebabkan sikapku tak menentu.

Tapi, apakah aku benar – benar tidak bisa mengambil sikap? Aku bisa. Dan saat kutulis ini, aku telah mengambil sikap. Bahwa aku akan mengikuti arus ini bersama kalian. Sejauh kalian mampu bertahan, sejauh itu pula aku akan tetap menjadi aku bagi kalian. Sebatas itulah yang aku mampu lakukan sekarang. Nanti aku akan pikirkan cara lain jika penjelasan dari kalian tiba – tiba datang. Dan untuk semua kecurigaan yang ada, itu resiko yang harus kita tanggung bersama. Semua akan baik – baik saja, mari kita yakin tentang ini.

Aku juga memohon agar kalian tak merasa bersalah atau bahkan menyesal tentang semua yang telah kita lewati bersama. Percayalah, kawan, semua itu akan menjadi bagian dari proses kehidupan kita untuk menemukan “seseorang” itu. Dan semua telah menjadi bagian indah dari lembaran kisah hidupku. :)

Apapun alasan kalian memperlakukanku seperti ini, aku berterimakasih, sangat berterimakasih. Karena kalian telah membuatku merasa sebagai seorang perempuan. :)

Ada yang berubah..

Dan kemudian galauku menjadi gundah..

Aku hanya tak mau salah,

Mengartikan indah yang tak berarah ini..

Terlebih saat kita akhirnya akan berpisah nanti..