Sabtu, 16 Juli 2011

Aku Menyakitinya (Cupangku Si Topik Kecil)


Aku memang bukan seseorang yang rajin merawat diri. Jarang mandi. Malas mencuci. Kadang tidak suka wangi.

Tapi aku juga punya hati, bisa menyayangi. . .
Kali ini aku menulis tentang bagaimana aku bisa sampai akhirnya memiliki seekor hewan peliharaan. Sungguh sejak lama aku sudah ingin punya seperti yang satu itu. Peliharaan. Tapi setiap aku meminta, alasan yang paling pertama disebut adalah yang aku tulis di awal kisah ini. Aku bukan orang yang pandai merawat diri, bisa dibayangkan bukan jika aku merawat makhluk hidup lain yang tidak bisa berkomunikasi secara verbal denganku. Meski lebih banyak rayuan, tetap saja aku tidak diijinkan. 

Terlebih lagi tentang bagaimana caraku untuk memberinya makan.
Oh, baiklah. Dan selama bertahun – tahun hidupku berjalan, aku hanya bisa memendam rasa gemasku ketika melihat hamster – hamster yang berlarian di roda putarnya, atau menangisi kucing yang mati ditabrak mobil di jalanan. Bahkan ketika sebuah praktikum keilmuan yang mengharuskan dan menghalalkan membunuh binatang sebagai bahan percobaan itu, aku tak sampai hati melihatnya disembelih paksa dan dikoyakkan seisi perutnya. Sadis. Demi sebuah ilmu pengetahuan, nyawa dianggap remeh. Tapi aku tidak berhak untuk mempermasalahkannya disini, bukan? Aku hanya ingin memberitahu kalian kalau aku memang tak tega melihatnya.

Lalu sebuah pelatihan yang aku ikuti rupanya membukakan sebuah kesempatan bagiku untuk mendapat sebuah momongan. Haha.. Bukan seorang anak manusia tentunya, hanya seekor ikan cupang betina. Tak menyangka, tapi aku berterimakasih.
Karena aku memang tidak punya pengalaman dalam memelihara, maka aku hanya melakukan yang aku tahu harus dilakukan. Seperti memberinya makan dan mengganti air dalam wadah ikannya yang mirip botol stoples itu. Tak lupa pula aku memberinya nama. Sebenarnya ikan ini sudah diberi nama ketika diberikan padaku sebagai award waktu itu. Tapi aku tak begitu suka dengan namanya dan secara spontan aku menggantinya dengan sebuah nama yang entah terlintas atau memang selalu ada di otakku. Entahlah, jangan membahas sekarang.

Melihatnya bisa bertahan dengan cara pemeliharaanku, maka aku senang. Mengajaknya mengobrol dan memaksanya untuk melihatku menangis. Seiring berjalannya waktu, aku merasa diantara kami ada chemistry yang terjalin. Mungkin hanya perasaanku. Tapi aku harus mengatakan bahwa aku memang menyayanginya. Ini diluar konteks nama yang kuberikan pada ikan cupangku itu ya. Aku serius.

Kemudian aku menjadi lupa waktu dan sering meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama untuk jadwal pemberian makannya, juga terlalu lama untuk jadwal penggantian airnya. Sedikit khawatir, tapi aku merasa ia baik – baik saja. Melihatnya masih pecicilan berenang kesana kemari di rumahnya yang tidak besar itu. Aku menjaganya untuk tidak stress dengan mengajaknya bicara layaknya sesama manusia. Mungkin jadi aku yang terlihat stress karena pada kenyataannya aku hanya bicara seorang diri.

Benar – benar kaget ketika semalam aku melihat keadaan ikan cupangku dengan mata bengkak dan insang yang tak bisa menutup seperti biasa. Aku merinding melihatnya dan mengingat kondisinya juga waktu menuliskan ini. Ia sedang tidak sehat. Waktu yang sudah larut malam membuatku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa segera mengganti airnya dan memberinya makan. Tapi ia tetap tidak mau makan. Diam – diam menangis dan akhirnya aku tertidur. Tidurku menjadi tidak nyenyak malam tadi, sungguh.

Terbangun esok harinya dan melihat kondisinya yang benar – benar membuat pilu hatiku, membuyarkan konsentrasi terhadap tanggung-jawabku dan beberapa hal lain yang seharusnya lebih aku perhatikan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Merasa sangat bersalah membuatku merinding dari ujung kaki hingga kepalaku.

Hari ini aku lalui dengan setengah fokus. Semua berkata bahwa aku harus mulai mengikhlaskannya. Ingin berkata pada mereka bahwa mereka itu kejam dan tidak berperasaan. Tapi mereka hanya tak tahu bagaimana rasanya menjadi aku.

Saat kembali dan melihatnya masih bertahan, sebuah kekuatan muncul pada diriku untuk melakukan suatu usaha untuk mempertahankan hidup ikan cupangku. Aku mencuci bersih wadahnya dan segera pergi membeli obat yang lumayan jauh tempatnya. Selama perjalanan itu, aku selalu merinding. “Jangan mati dulu !”, begitu pikirku terus – menerus.

Sekarang, aku hanya berharap dan berdoa. Ikan cupang memang banyak dijual dan dikembangbiakan. Jika mati satu, masih ada seribu di pasar sana. Tapi, ikan cupangku yang satu ini adalah peliharaanku yang pertama. Biarlah aku melakukan semampuku untuknya. Karena seekor ikan cupang yang bernyawa, ia tetap ciptaan Yang Kuasa.

Maafkan aku ikan cupang, maafkan aku topik kecil.. T.T

Tetaplah kuat dan bertahanlah, meski sakit begitu kau rasa..
‘Gar aku juga takkan kalah ataupun mengalah..


*lalu bagaimana dengan ayam goreng ato bahkan ikan bakar yang aku makan itu? hemm.. itu lain kisahnya >,<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar