Membutuhkan seseorang seperti ini benar – benar membuatku tidak nyaman. Terus memikirkannya bagaikan orang yang tidak punya urusan lain, benar – benar tidak menyenangkan. Karena tiap kali yang ada aku hanya mengeluh dan mengeluh. Jika tak menceritakannya pada orang lain rasanya seperti menyimpan bara panas dalam kantong celanaku. Selalu ingin ku keluarkan , ingin cepat – cepat dikeluarkan ketika ada kesempatan. Tentu orang yang mejadi korbanku akan banyak berkata “mungkin”. Salah satu mungkin itu seperti ini “mungkin kamu lagi banyak pikiran” atau “mungkin kamu lagi ga ada kerjaan”. Haha, menjadikanku lebih bimbang untuk menentukan bukan?
Yang aku tahu pasti adalah bahwa aku tak bisa untuk tidak memikirkannya.
Aku memiliki banyak teman untuk membuatku tertawa atau ku buat tertawa. Aku memiliki banyak sahabat untuk berbagi semua cerita senang dan sedih. Aku bahkan tak perlu repot untuk mencari orang yang mau sekedar menemaniku makan. Lalu apa yang kurang? Apa yang tidak ada? Apakah ini karena aku sudah sangat merindukan rumah? Apakah aku benar – benar rindu rumah? Entahlah. Aku belum terlalu ingin pulang. Masih terlalu takut untuk tak kembali. :(
Setelahnya aku hanya menyebut keadaan ini sebagai kegalauan. Galau. Dan aku mencoba jujur pada beberapa teman dan sahabat tentang kegalauan ini. Sedikit bingung awalnya saat aku mulai bercerita pada mereka. Aku khawatir mereka tidak menangkap maksudku dengan baik. Karena galau ini menyebabkanku kurang mahir lagi dalam memilih kata – kata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. Berkali – kali aku hanya mengeluarkan pertanyaan “mudeng ga?” pada mereka. Berharap mereka akan berkata “tidak”, tapi mereka justru mulai mencuri kesempatan itu untuk mengeluarkan cerita mereka sendiri. Yah, karena rupanya galau ini tidak berlaku untukku saja. Tapi juga berlaku pada mereka.
Dan ketika aku kembali sendirian, berpikir dan merenung. Terasa ada yang kosong di hati ini. Sungguh sangat terasa. Bahwa tidak ada apa – apa di sana. Apakah sebelumnya ada sesuatu di sana? Aku juga tidak tahu pasti. Kalau pun ada, apa yang hilang? Aku bahkan tak bisa menangis seperti beberapa waktu yang lalu. Dan tersenyum pun rasanya aneh. Apa yang hilang? Apa yang tidak ada? Apa yang sebelumnya ada di sana?
Jelas ku ingat tentang lelah dan sakit itu. Ya, waktu belum lama berlalu. Tapi apakah aku melewatkan sesuatu yang penting? Kenapa sekarang lelah dan sakit itu tak ada dimana –mana? Aku mencari dan tetap tidak kutemukan lagi. Inikah yang membuatku merasa kosong? Mungkinkah sakit itu sudah benar – benar hilang sekarang? Ah aku sugguh sedang galau, kawan.
Ketika perjalanan lain dimulai dan aku menjadi diriku sendiri, seseorang yang tangguh dan tidak peduli rasa takut. Yang lain menjadi orang yang terlindungi dan diperhatikan. Bersama sosok tangguh lain, aku membuat diri sekuat mungkin agar bisa menjadi tameng mereka. Tak ada masalah untuk jadi seperti itu. Justru aku nyaman dengan keadaaan ini. Lalu aku mulai memperhatikan. Mereka yang terlindung itu benar – benar dalam keadaaan aman. Cukup percaya pada tameng masing – masing dan semua beres. Dan sosok – sosok tangguh itu mulai terlihat bersinar di mataku. Sinar yang sebelumnya tak pernah ku lihat pada mereka selama ini. Tapi, percayalah, aku melihat kalian bersinar. :)
Sinar itu membuatku terpesona dengan sangat baik. Namun ini bukan terpesona seperti yang ada di film – film, ketika angin berhembus di tiap helai rambut dan semua berjalan lambat. Saat ini aku sedang tidak memiliki hatiku sendiri untuk bisa terpesona dengan cara melankolis romantis seperti itu. Karena yang terakhir kali itu belum sepenuhya kembali. Tak mudah bagiku untuk mengambilnya lagi sekarang. Maka ini jenis terpesona yang lain. Kawan, kalian menjadi sosok yang indah sekarang bagiku. Sungguh bangga bisa berkenalan dengan kalian dan berbagi banyak kisah tentang hari – hari yang telah kalian lalui. Tapi pesona kalian sekarang membuatku iri. Bukan iri pada kalian, bukan, tapi iri pada mereka yang kalian lindungi.
Salahkah aku merasa iri seperti ini? Karena aku akhirnya sadar, yang aku tak miliki adalah sosok tangguh yang melindungiku. Meski sejauh ini aku bisa melindungi diriku sendiri dengan sangat baik dan melindungi semua yang kusayangi semampuku. Tapi melihat yang lain dilindungi seaman dan senyaman itu membuatku ingin jadi lemah. Terlebih ketika mendengar kisah kalian yang melindungi mereka dengan setulusnya perasaan sayang. Oh, aku sungguh mau jadi mereka. Andai mereka tahu bahwa kalian memiliki ketulusan sehebat ini, mereka pasti akan berpikir ribuan kali untuk menyakiti hati kalian. Dan andai aku memiliki hal – hal menarik yang mereka punya sehingga membuat kalian, teman – teman tangguhku, rela menjadi temeng yang melindungi mereka, aku siap menyembuhkan tiap luka kalian hingga benar – benar sembuh. Tapi bahkan aku tak mampu membuat seseorang menjadi tertarik padaku sebegitu dalamnya hingga rela menjadikan dirinya tameng bagiku yang sebenarnya sudah sekuat tameng itu sendiri. Aku hanya bisa menjadi seseorang yang berada di samping kalian. Menepuk bahu ketika kalian mulai tertunduk lesu. Meski terkadang, terutama saat – saat sekarang, aku ingin menjadi seseorang yang berdiri di hadapan kalian. Yang hanya dengan tersenyum bisa membuat kalian bahagia sampai ingin terbang ke angkasa. Dan yang tak sekedar menepuk bahu, tapi bisa menyentuh wajah kalian dengan tanganku (yang mungkin akan lebih menarik jika tak sehitam dan sekasar ini) untuk mengembailkan semangat kalian yang mulai redup.
Tetaplah jadi sosok yang tangguh, kawanku. Meski lelah, tapi yakinlah, seyakin kalian sewaktu meyakinkanku tentang seseorang yang akan melengkapi hidup kita. :)
Ketika kekosongan mulai merasuk ke hati..
Mengikatnya begitu kencang..
Inginku menggenggam tangan kalian, seerat mungkin..
Agar aku tak akan roboh dan tetap tangguh, seperti kalian..
Berharap galau ini cepat berlalu. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar