Selasa, 13 Desember 2011

Catatan Ke-51

ini pria yang kukenal di ujung mudaku
entah benar benar sudah di ujung, atau hanya aku yang merasa begitu
tapi rasa yang ada sekarang sungguh berbeda
pria ini membuatku selalu kebingungan

dia sering bilang kalau aku membosankan, garing, mungkin sebentar lagi jadi tak menarik
namun, hai pria, aku tak bohong ketika aku berkata bahwa kau membuatku merasakan hal berbeda dari yang sebelumnya
dan ketika suatu saat nanti kau jadi tak peduli lagi tentang kebodohanku
bahkan berhenti untuk mengatakan hal hal yang semestinya kulakukan,
aku mau kau tetap tahu, kalau aku sayang padamu
dan mencintaimu adalah sebuah perjalanan yang sedang kutempuh dengan segenap hati yang ku punya..

surakarta, 20 november 2011
malam sepi *setelah menguras keberanian utk menelponnya* yang kuhabiskan dengan mem'bodoh'i diri sendiri sampai pagi :'o

loving you, honestly, A.


Kamis, 08 September 2011

Hampir


Untuk yang kali ini aku hampir benar – benar kehilangan kendali.

Dia lagi – lagi membuatku merasa terlindungi. Bisa – bisa aku jadi ketagihan dengan perlakuan seperti itu. Karena aku menikmatinya.

Ah, sudahlah. Bagaimanapun seleranya takkan bisa diubah, juga aku takkan bisa jadi seperti yang dia selerakan. Aku tak mau.

Satu yang selalu kudoakan. Aku sungguh ingin menunjukkan pada pemuda ini tentang cinta. Dengan atau tanpa aku, aku ingin ia benar – benar merasakan indahnya cinta hingga membuatnya gila. Ia sudah terlalu banyak bermain – main tentang cinta.

Tapi, yang susah adalah, bagaimana aku menunjukkan cinta tanpa aku harus mencinta? Untuk itu, aku selalu mengendalikan perasaanku sendiri saat bersamanya.

Meski malam ini, aku hampir kehilangan kendali.

Suatu saat nanti, kamu pasti akan menemukan seorang wanita yang membuat hidupmu jungkir-balik. Membuatmu penasaran dan bingung tentang perasaanmu sendiri hanya karena senyumannya padamu. Membuatmu merindukannya bahkan saat sedang menatap kedua matanya.

Dan kalaupun benar aku sudah jatuh cinta tanpa kusadari, aku akan diam. Aku kan membuatmu mengerti dulu. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk tak mengaku.

Surakarta, 22 Agustus 2011

Aku Ingin Jadi AKU

Aku ingin menjadi diriku yang dulu. Yang hanya menginginkan satu titik di depan sana. Merasa berbeda membuatku kehilangan perasaan nyaman menjadi diri sendiri. Sungguh, aku ingin kembali seperti dulu. Aku yang tak tahu hal – hal sebanyak sekarang.

Bagaimana aku bisa kembali menjadi aku yang dulu? Menghapus ingatan atau memutar kembali waktu yang telah lewat? Tak adakah cara logis yang bisa aku coba untuk lakukan? Selain bertanya seperti ini?

Dulu semuanya sangat mudah bagiku. Karena bahkan ketika aku menutup mata, aku bisa melihatnya dan yakin dengan apa yang aku rasakan. Tidak kebingungan seperti sekarang. Terlalu banyak yang muncul di pikiranku, bahkan tanpa aku menutup mata.

Untuk kamu, apakah aku terlalu berlebihan dalam menetapkan standar pilihanku? Apakah aku terlalu menakutkan untuk sekedar diperjuangkan? Tapi kenyataanmu sungguh mengangguku. Siang dan malam.

Untuknya, apakah ini semacam permainan yang sudah sering ia mainkan? Apakah ia akan memainkannya denganku? Apakah aku pantas? Bahkan jika ini benar hanya sebuah permainan untuknya, lalu kenapa ia tidak sepenuhnya bermain? Seharusnya ia tidak pernah memulai, karena sekarang aku sungguh sulit untuk mengakhirinya.

Dan untuk dia, apakah ada hati yang melebihi kerasnya batu? Mungkinkah seperti itu hatinya? Atau aku hanya sedang diberitahu bahwa di dunia ini ada hal – hal yang tak bisa dipaksakan? Apa? Apa aku memaksa dia? Inginku hanya menunjukkan, dan seharusnya dia tahu apa yang aku telah lakukan melebihi apa yang ingin aku tunjukkan. Karena aku telah merasakan sesuatu yang melebihi perasaanku sendiri. Meski sekarang, aku harus meregangkan ikatan ini. Melonggarkannya perlahan seiring perih agar aku bisa melepasnya.

Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Tidak pernah memikirkan sebanyak yang aku pikirkan sekarang. Walaupun aku dulu juga berpikir, tapi aku melakukannya tanpa kebingungan. Aku tahu pasti titik mana yang akan jadi arahku. 
Tidak seperti sekarang. 
Aku terus mencari..

Senin, 15 Agustus 2011

I Hope That I've Never Been There




Aku merindukan kalian. Benar – benar rindu akan masa itu.



Sebelum itu semua terjadi, aku berdoa agar aku memiliki kesempatan untuk merasakan sesuatu yang sering dirasakan oleh kebanyakan orang normal. Dan setelah itu aku alami, aku tak lagi berdoa agar itu tetap bertahan. Aku tahu kalau saat itu aku lalai untuk mempertahankan apa yang sudah aku punya. Aku tak menggenggamnya sekuat yang aku mampu.



Sekarang ketika aku merindukanmu, ia dan dia, aku sadar bahwa aku tak pantas. Apakah aku mengalami krisis percaya diri? Apakah aku terlihat seperti orang yang tak punya kepercayaan akan diri sendiri? Mungkin saja. Aku hanya merasa tak pantas.



Terlepas dari faktor internal-eksternal dari diriku sendiri, aku tahu bahwa aku harus memperhatikan perasaan banyak orang. Aku tak mau jadi seperti dia yang sering memberi umpan tapi tak pernah mau mengangkat kailnya. Harapan palsu. Juga, aku tak mau jadi orang yang diberi sesuatu seperti itu. Kalian juga mustinya hati – hati. Jika orang lain yang kalian beri umpan seperti itu, bisa jadi mereka merasa kecewa yang begitu dalam. Terlebih jika mereka adalah orang yang menghargai ketulusan.



Tapi aku, adalah orang yang takkan menyakiti kalian dengan kekecewaanku. Kalian tentu tahu, banyak orang yang kecewa bisa melakukan hal – hal yang tidak masuk akal. Dan kalian begitu berarti dalam hidupku. Itu sebabnya aku merindukan kalian.



Meski tak hanya tawa yang kalian ukir dalam hidup di siang hari dan juga mimpi -  mimpi dalam tidurku. Jelas ada sakit dan tangis. Tapi aku menghargai tiap rasa itu sebagai ukiran yang akan memperindah tiap lekuk kisah hidupku. Untuk itu aku berterimakasih.



Dan tentang perasaan rinduku ini, sebenarnya aku tidak pernah menyangka kalau rupanya aku benar – benar merindukan kalian. Ini berawal dari rasa hilang yang mengangguku terus – menerus sepanjang waktu. Entah saat mataku terbuka atau bahkan tertutup dan terbuka lagi.



Aku berpikir dan merenungkan semua gejalanya. Ini jelas suatu penyakit. Ya, aku mengakui kalau aku ternyata sedang merindukan kalian. Aku merasa seharusnya kalian tak mengetahui tentang ini semua. Aku khawatir kalian justru merasa bersalah. Padahal aku yang salah.



Semakin aku merindukan kalian, semakin aku merasa bersalah. Dan semakin pula aku sadar kalau aku harus mundur. Perlahan, aku ingin kalian melupakan tentang adanya aku. Aku tahu kalau ini akan sulit, karena aku tetap ada dan keberadaanku jelas terlihat di sekitar kalian.



Aku memang tetap akan ada di depan mata kalian, tapi aku mencoba untuk hilang dari hadapan hati kalian. Karena aku merindukanmu, ia dan dia. Tolong jangan coba untuk merasakan apa yang aku rasakan, karena ini rumit.



Minggu, 17 Juli 2011

Teruntuk Sahabatku


Teruntuk sahabatku. . .

Kamu tahu apa yang sedang terjadi padaku? Merasa sangat, sangat bersalah. Melakukan yang seperti ini padamu, meski kamu bilang “gapapa”, tapi aku sudah hidup lebih lama daripadamu. Aku merasa bahwa kamu tidak sedang dalam keadaan sebaik apa yang kamu katakan.

Mengatakan, secara tidak langsung, hal – hal yang kemarin kukatakan padamu sama rasanya seperti yang aku rasakan pada ikan cupangku. Karena sesuatu yang sudah menjadi sifatku membuatku tak bisa memperlakukanmu seperti yang seharusnya aku lakukan.

Aku hanya tak mampu merubah apa yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Dan aku selalu meneriakki diriku sendiri yang seperti ini. Karena tiap kali aku memejamkan mata sejak malam itu, wajahmu yang gugup sewaktu mengatakannya selalu muncul. Apa ini? Tampaknya aku telah menjadi orang terbodoh di dunia yang berlari sambil menangis, tidak ingin pergi, tapi tetap berlari.

Takkan pernah lelah aku berterimakasih padamu atas semua kebaikanmu ini. Apapun ingin kulakukan untuk membalasnya. Dan yang akhirnya kamu minta justru suatu hal yang kamu lakukan untukku, lagi. Kamu tahu, dengan mengabulkan hal yang kamu minta hanya akan menambah rasa terimakasihku padamu. Padahal yang ingin aku lakukan adalah sesuatu untukmu, bukan untukku.

Apakah mungkin kamu benar – benar berpikir bahwa aku pasti akan pergi dan tak kembali? Ya, hal itu memang mungkin akan terjadi. Tapi sepertinya kamu sedang lupa. Lupa tentang siapa diriku sebenarnya.
Mungkin kamu lupa, kalau aku adalah seseorang yang takkan bisa berhenti untuk memperjuangkan mimpi – mimpi.

Sepertinya kamu lupa, kalau aku adalah seseorang yang tak perlu pertanyaan – pertanyaan kekhawatiran tentang keadaanku.

Tampaknya kamu memang lupa, kalau aku adalah seseorang yang tak mempan dengan kata – kata.

Bisa juga kamu lupa, kalau aku bukan orang yang mudah berbalik arah.

Andai saja kamu ingat, bisa jadi ponsel kita masih berdering hingga detik ini sebagai tanda bahwa ada pesan singkat yang panjang berisi cerita yang kita bagi bersama.

Dan ini bukan salahmu, aku tahu. Semua orang juga selalu berkata begitu padaku. Harusnya mereka pun tahu, kalau aku tak pernah sedikitpun menyalahkanmu.

Aku menyalahkan diriku sendiri.

Karena aku tak mampu mengubah diriku sendiri untuk membuat hari – hari kita kembali dipenuhi gelak tawa. Aku akan merindukan saat – saat seperti itu mulai sekarang.

Satu hal yang sering aku coba sampaikan padamu, seandainya kamu bisa mengerti, kalau saat ini aku benar – benar tidak bisa memperlakukanmu melebihi perlakuan terhadap sahabat. Tapi sering kali, sahabat punya arti yang lebih dari apapun.

Kamu ingin dekat denganku, padahal aku sudah sangat dekat dengamu dari awal. Kamu ingin menjadi orang yang paling dekat denganku, padahal kamu termasuk di barisan terdepan dari orang – orang terdekatku. Dan kamu juga ingin jadi orang yang berarti bagiku, padahal dirimu sungguh berarti dalam hidupku. Lalu apa yang bisa aku berikan padamu? Lagi – lagi, aku masih tak bisa melakukan sesuatu untukmu sebagai balas budiku.

Jika kamu memang perlu tahu, aku sedang dan masih menunggu seseorang sekarang. Seseorang yang takkan menyerah hanya karena berada dalam situasi, waktu dan cara yang tak tepat. Seseorang yang gigih, melebihi kegigihanku terhadap dia yang saat ini masih ada di hatiku. Seseorang yang memperlakukanku dengan salah, tapi tetap melakukannya meski aku sudah melarangnya, semata – mata karena ia memang ingin melakukannya dan berusaha menunjukkan padaku tentang arti ketulusan. 
Seseorang yang tahu bagaimana memberikan perhatian yang sesuai untuk orang sepertiku. Seseorang yang sanggup mengubah dirinya menjadi lebih berani dari dirinya sendiri untuk bisa melindungi orang yang seberani aku. Seseorang yang takkan kalah dariku dalam hal memperjuangkan cinta.

Untuk sekarang, kamu memang bukan seseorang itu. Tapi kemungkinan bagimu untuk jadi seseorang itu masih ada, jika kamu mau.

Dan mungkin kamu takkan mau, karena aku hanyalah seorang biasa, yang tak punya kulit seputih orang Eropa, yang hidungnya tak semancung orang Arab, yang kakinya tak sejenjang orang Mesir, yang otaknya tak sepintar orang Jepang dan yang kebiasaannya tak seperti perempuan pada umumnya (rajin mandi, suka luluran, selalu wangi, pakai baju feminin, dan tak lupa menyisir rambut).

Orang sebaik kamu, sahabatku, pasti bisa mendapatkan yang tidak seperti aku. Ini juga yang aku pikirkan dulu sewaktu kamu pertama kali “menolakku”. Cukup menyakitkan sebenarnya sewaktu kamu bahkan takut terhadapku. Dan aku berjuang sekeras mungkin untuk menjadi orang yang tak menakutkan bagimu dan bisa membuatmu tersenyum, bahkan tertawa. Setelah itu semua berhasil aku lakukan, kamu justru baru membuka matamu sangat lebar hingga benar – benar melihatku. Tapi waktu tak bisa diputar ulang. Kini giliranmu, akankah kamu berjuang sekeras mungkin, sama atau bahkan lebih keras dariku, untuk membuatku kembali melihatmu seperti saat pertama kali aku melihatmu? Aku takkan berharap agar aku takkan sakit dan menyakitimu.

Hanya ingin kamu tahu, kalau aku mulai merindukanmu. . .

Terimakasih, sahabatku. . . :)

Sabtu, 16 Juli 2011

Aku Menyakitinya (Cupangku Si Topik Kecil)


Aku memang bukan seseorang yang rajin merawat diri. Jarang mandi. Malas mencuci. Kadang tidak suka wangi.

Tapi aku juga punya hati, bisa menyayangi. . .
Kali ini aku menulis tentang bagaimana aku bisa sampai akhirnya memiliki seekor hewan peliharaan. Sungguh sejak lama aku sudah ingin punya seperti yang satu itu. Peliharaan. Tapi setiap aku meminta, alasan yang paling pertama disebut adalah yang aku tulis di awal kisah ini. Aku bukan orang yang pandai merawat diri, bisa dibayangkan bukan jika aku merawat makhluk hidup lain yang tidak bisa berkomunikasi secara verbal denganku. Meski lebih banyak rayuan, tetap saja aku tidak diijinkan. 

Terlebih lagi tentang bagaimana caraku untuk memberinya makan.
Oh, baiklah. Dan selama bertahun – tahun hidupku berjalan, aku hanya bisa memendam rasa gemasku ketika melihat hamster – hamster yang berlarian di roda putarnya, atau menangisi kucing yang mati ditabrak mobil di jalanan. Bahkan ketika sebuah praktikum keilmuan yang mengharuskan dan menghalalkan membunuh binatang sebagai bahan percobaan itu, aku tak sampai hati melihatnya disembelih paksa dan dikoyakkan seisi perutnya. Sadis. Demi sebuah ilmu pengetahuan, nyawa dianggap remeh. Tapi aku tidak berhak untuk mempermasalahkannya disini, bukan? Aku hanya ingin memberitahu kalian kalau aku memang tak tega melihatnya.

Lalu sebuah pelatihan yang aku ikuti rupanya membukakan sebuah kesempatan bagiku untuk mendapat sebuah momongan. Haha.. Bukan seorang anak manusia tentunya, hanya seekor ikan cupang betina. Tak menyangka, tapi aku berterimakasih.
Karena aku memang tidak punya pengalaman dalam memelihara, maka aku hanya melakukan yang aku tahu harus dilakukan. Seperti memberinya makan dan mengganti air dalam wadah ikannya yang mirip botol stoples itu. Tak lupa pula aku memberinya nama. Sebenarnya ikan ini sudah diberi nama ketika diberikan padaku sebagai award waktu itu. Tapi aku tak begitu suka dengan namanya dan secara spontan aku menggantinya dengan sebuah nama yang entah terlintas atau memang selalu ada di otakku. Entahlah, jangan membahas sekarang.

Melihatnya bisa bertahan dengan cara pemeliharaanku, maka aku senang. Mengajaknya mengobrol dan memaksanya untuk melihatku menangis. Seiring berjalannya waktu, aku merasa diantara kami ada chemistry yang terjalin. Mungkin hanya perasaanku. Tapi aku harus mengatakan bahwa aku memang menyayanginya. Ini diluar konteks nama yang kuberikan pada ikan cupangku itu ya. Aku serius.

Kemudian aku menjadi lupa waktu dan sering meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama untuk jadwal pemberian makannya, juga terlalu lama untuk jadwal penggantian airnya. Sedikit khawatir, tapi aku merasa ia baik – baik saja. Melihatnya masih pecicilan berenang kesana kemari di rumahnya yang tidak besar itu. Aku menjaganya untuk tidak stress dengan mengajaknya bicara layaknya sesama manusia. Mungkin jadi aku yang terlihat stress karena pada kenyataannya aku hanya bicara seorang diri.

Benar – benar kaget ketika semalam aku melihat keadaan ikan cupangku dengan mata bengkak dan insang yang tak bisa menutup seperti biasa. Aku merinding melihatnya dan mengingat kondisinya juga waktu menuliskan ini. Ia sedang tidak sehat. Waktu yang sudah larut malam membuatku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa segera mengganti airnya dan memberinya makan. Tapi ia tetap tidak mau makan. Diam – diam menangis dan akhirnya aku tertidur. Tidurku menjadi tidak nyenyak malam tadi, sungguh.

Terbangun esok harinya dan melihat kondisinya yang benar – benar membuat pilu hatiku, membuyarkan konsentrasi terhadap tanggung-jawabku dan beberapa hal lain yang seharusnya lebih aku perhatikan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Merasa sangat bersalah membuatku merinding dari ujung kaki hingga kepalaku.

Hari ini aku lalui dengan setengah fokus. Semua berkata bahwa aku harus mulai mengikhlaskannya. Ingin berkata pada mereka bahwa mereka itu kejam dan tidak berperasaan. Tapi mereka hanya tak tahu bagaimana rasanya menjadi aku.

Saat kembali dan melihatnya masih bertahan, sebuah kekuatan muncul pada diriku untuk melakukan suatu usaha untuk mempertahankan hidup ikan cupangku. Aku mencuci bersih wadahnya dan segera pergi membeli obat yang lumayan jauh tempatnya. Selama perjalanan itu, aku selalu merinding. “Jangan mati dulu !”, begitu pikirku terus – menerus.

Sekarang, aku hanya berharap dan berdoa. Ikan cupang memang banyak dijual dan dikembangbiakan. Jika mati satu, masih ada seribu di pasar sana. Tapi, ikan cupangku yang satu ini adalah peliharaanku yang pertama. Biarlah aku melakukan semampuku untuknya. Karena seekor ikan cupang yang bernyawa, ia tetap ciptaan Yang Kuasa.

Maafkan aku ikan cupang, maafkan aku topik kecil.. T.T

Tetaplah kuat dan bertahanlah, meski sakit begitu kau rasa..
‘Gar aku juga takkan kalah ataupun mengalah..


*lalu bagaimana dengan ayam goreng ato bahkan ikan bakar yang aku makan itu? hemm.. itu lain kisahnya >,<

Selasa, 12 Juli 2011

Out Of Focus


Kutulis ini saat aku mengalami sebuah kegundahan, kawan..

Galau yang dulu merasuk ke hati ini rupanya merupakan sebuah awal dari kisah baru yang menambah daftar pengalaman hidupku sekarang.

Galau itu menggerogoti hari – hariku dengan kebutuhan akan seseorang yang bisa mengisi ruang kosong hati ini. Meski butuh, tapi aku tak sedang mencari. Aku terlalu khawatir untuk tidak menemukannya. Dan orang bijak pernah berkata sesuatu yang cukup bagus, “tak perlu mencari cinta, karena cinta yang akan menemukanmu”. Tidak bermaksud membenarkan perkataan bijak itu, hanya saja aku mendoakan agar itu benar adanya.

Sungguh, aku menjalani hari – hari galau itu seperti seorang aku yang biasa. Aku tidak mencoba memutihkan kulit atau menambah tingkat seringnya mandi tiap harinya. Bahkan aku masih tetap menjalani ritual liburanku, tidur larut malam dan bangun kesiangan. Ah, aku benar – benar menikmati momen untuk jadi diriku sendiri itu.

Saking asyiknya, aku sampai tak sadar jika ada sesuatu yang berbeda. Perlakuan mereka. Awalnya aku biarkan saja. Tapi kemudian efek galau yang adalah mudahnya jadi ge-er melandaku. Semakin mereka sering membuatku jadi nyaman, semakin pula aku ke-ge-er-an. Ya, mungkin kalian tak bermaksud menjadikanku merasa seperti itu. Tapi harus kuakui, aku ge-er, kawan.

Kemudian aku mengendalikan otakku untuk tidak memikirkan yang biasanya terpikirkan oleh perempuan yang kalian perlakukan seperti ini. Meski aku sadar bahwa aku juga adalah seorang perempuan, tapi setidaknya dari segi fisik dan tabiat aku sungguh berbeda dengan mereka – mereka yang mudah menarik perhatian kalian, bukan? Cukup tahu diri dan aku menepis semua harapku yang sewajarnya muncul.

Tak sulit bagiku untuk mengendalikan semua itu, bukan berniat sombong, tapi aku memang sudah pernah mengendalikan yang lebih sulit daripada ini. Dan rupanya, hanya aku yang bergerak melawan arus. Kalian, sadar atau tidak, membiarkan arus itu membawa kalian dan bahkan mulai menikmatinya. Apa aku berhak untuk menghentikan kalian? Tidak. Karena aku tidak tahu sama sekali alasan kalian berbuat ini padaku. Bahkan aku tak sanggup bertanya. Lagi – lagi, aku tak ingin kalian salah paham dan menganggapku perempuan yang mudah ge-er juga sangat tidak mengasyikkan. Aku tak ingin kehilangan sosok kalian, sungguh.

Kecurigaan mulai muncul. Aku mungkin bisa menyembunyikan semua curiga dari diriku sendiri. Tapi banyak mata melihat, banyak pula curiga muncul. Apa aku bisa menghentikan semua kecurigaan itu? Jawabnya pun tidak. Karena curiga bukan untuk dihilangkan, tapi untuk dijawab layaknya sebuah pertanyaan. Tak adanya jawaban dariku lalu memancing persepsi masing – masing yang setelah mendengarkannya membuatku semakin ge-er. Sangat ge-er. Terlebih ketika kalian tetap meneruskan perlakuan yang sangat membuatku nyaman ini.

Waktu berlalu. Aku kemudian merasa telah kehilangan kendali atas perasaanku sendiri. Out of focus. Gelagatku bahkan mirip sekali dengan ababil yang sedang terjangkit virus merah jambu. Mimpi – mimpiku mulai aneh. Lagu yang kudengar juga makin menjurus ke sebuah keadaan. Kawan, disini aku ingin memberitahu kalian, bahwa merasa ge-er bisa berujung pada jatuh cinta. Dan itu gawat. Bagaimana kalau sampai aku benar – benar jatuh cinta pada kalian?

Memikirkannya sekarang justru lebih memusingkan kepala dibanding kegalauan yang lalu.

Setidaknya kalian akan lebih bisa membantuku untuk menentukan sikap jika kalian sendiri juga memastikan jenis dan macam perlakuan apa yang sedang kalian lakukan padaku. Kepastian yang tak begitu jelas menyebabkan sikapku tak menentu.

Tapi, apakah aku benar – benar tidak bisa mengambil sikap? Aku bisa. Dan saat kutulis ini, aku telah mengambil sikap. Bahwa aku akan mengikuti arus ini bersama kalian. Sejauh kalian mampu bertahan, sejauh itu pula aku akan tetap menjadi aku bagi kalian. Sebatas itulah yang aku mampu lakukan sekarang. Nanti aku akan pikirkan cara lain jika penjelasan dari kalian tiba – tiba datang. Dan untuk semua kecurigaan yang ada, itu resiko yang harus kita tanggung bersama. Semua akan baik – baik saja, mari kita yakin tentang ini.

Aku juga memohon agar kalian tak merasa bersalah atau bahkan menyesal tentang semua yang telah kita lewati bersama. Percayalah, kawan, semua itu akan menjadi bagian dari proses kehidupan kita untuk menemukan “seseorang” itu. Dan semua telah menjadi bagian indah dari lembaran kisah hidupku. :)

Apapun alasan kalian memperlakukanku seperti ini, aku berterimakasih, sangat berterimakasih. Karena kalian telah membuatku merasa sebagai seorang perempuan. :)

Ada yang berubah..

Dan kemudian galauku menjadi gundah..

Aku hanya tak mau salah,

Mengartikan indah yang tak berarah ini..

Terlebih saat kita akhirnya akan berpisah nanti..

Sabtu, 02 Juli 2011

G A L A U (dedicated for: teman - teman tangguhku)


Membutuhkan seseorang seperti ini benar – benar membuatku tidak nyaman. Terus memikirkannya bagaikan orang yang tidak punya urusan lain, benar – benar tidak menyenangkan. Karena tiap kali yang ada aku hanya mengeluh dan mengeluh. Jika tak menceritakannya pada orang lain rasanya seperti menyimpan bara panas dalam kantong celanaku. Selalu ingin ku keluarkan , ingin cepat – cepat dikeluarkan ketika ada kesempatan. Tentu orang yang mejadi korbanku akan banyak berkata “mungkin”. Salah satu mungkin itu seperti ini “mungkin kamu lagi banyak pikiran” atau “mungkin kamu lagi ga ada kerjaan”. Haha, menjadikanku lebih bimbang untuk menentukan bukan?

Yang aku tahu pasti adalah bahwa aku tak bisa untuk tidak memikirkannya.

Aku memiliki banyak teman untuk membuatku tertawa atau ku buat tertawa. Aku memiliki banyak sahabat untuk berbagi semua cerita senang dan sedih. Aku bahkan tak perlu repot untuk mencari orang yang mau sekedar menemaniku makan. Lalu apa yang kurang? Apa yang tidak ada? Apakah ini karena aku sudah sangat merindukan rumah? Apakah aku benar – benar rindu rumah? Entahlah. Aku belum terlalu ingin pulang. Masih terlalu takut untuk tak kembali. :(
Setelahnya aku hanya menyebut keadaan ini sebagai kegalauan. Galau. Dan aku mencoba jujur pada beberapa teman dan sahabat tentang kegalauan ini. Sedikit bingung awalnya saat aku mulai bercerita pada mereka. Aku khawatir mereka tidak menangkap maksudku dengan baik. Karena galau ini menyebabkanku kurang mahir lagi dalam memilih kata – kata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. Berkali – kali aku hanya mengeluarkan pertanyaan “mudeng ga?” pada mereka. Berharap mereka akan berkata “tidak”, tapi mereka justru mulai mencuri kesempatan itu untuk mengeluarkan cerita mereka sendiri. Yah, karena rupanya galau ini tidak berlaku untukku saja. Tapi juga berlaku pada mereka.

Dan ketika aku kembali sendirian, berpikir dan merenung. Terasa ada yang kosong di hati ini. Sungguh sangat terasa. Bahwa tidak ada apa – apa di sana. Apakah sebelumnya ada sesuatu di sana? Aku juga tidak tahu pasti. Kalau pun ada, apa yang hilang? Aku bahkan tak bisa menangis seperti beberapa waktu yang lalu. Dan tersenyum pun rasanya aneh.  Apa yang hilang? Apa yang tidak ada? Apa yang sebelumnya ada di sana?

Jelas ku ingat tentang lelah dan sakit itu. Ya, waktu belum lama berlalu. Tapi apakah aku melewatkan sesuatu yang penting? Kenapa sekarang lelah dan sakit itu tak ada dimana –mana? Aku mencari dan tetap tidak kutemukan lagi. Inikah yang membuatku merasa kosong? Mungkinkah sakit itu sudah benar – benar hilang sekarang? Ah aku sugguh sedang galau, kawan.

Ketika perjalanan lain dimulai dan aku menjadi diriku sendiri, seseorang yang tangguh dan tidak peduli rasa takut. Yang lain menjadi orang yang terlindungi dan diperhatikan. Bersama sosok tangguh lain, aku membuat diri sekuat mungkin agar bisa menjadi tameng mereka. Tak ada masalah untuk jadi seperti itu. Justru aku nyaman dengan keadaaan ini. Lalu aku mulai memperhatikan. Mereka yang terlindung itu benar – benar dalam keadaaan aman. Cukup percaya pada tameng masing – masing dan semua beres. Dan sosok – sosok tangguh itu mulai terlihat bersinar di mataku. Sinar yang sebelumnya tak pernah ku lihat pada mereka selama ini. Tapi, percayalah, aku melihat kalian bersinar. :)

Sinar itu membuatku terpesona dengan sangat baik. Namun ini bukan terpesona seperti yang ada di film – film, ketika angin berhembus di tiap helai rambut dan semua berjalan lambat. Saat ini aku sedang tidak memiliki hatiku sendiri untuk bisa terpesona dengan cara melankolis romantis seperti itu. Karena yang terakhir kali itu belum sepenuhya kembali. Tak mudah bagiku untuk mengambilnya lagi sekarang. Maka ini jenis terpesona yang lain. Kawan, kalian menjadi sosok yang indah sekarang bagiku. Sungguh bangga bisa berkenalan dengan kalian dan berbagi banyak kisah tentang hari – hari yang telah kalian lalui. Tapi pesona kalian sekarang membuatku iri. Bukan iri pada kalian, bukan, tapi iri pada mereka yang kalian lindungi.

Salahkah aku merasa iri seperti ini? Karena aku akhirnya sadar, yang aku tak miliki adalah sosok tangguh yang melindungiku. Meski sejauh ini aku bisa melindungi diriku sendiri dengan sangat baik dan melindungi semua yang kusayangi semampuku. Tapi melihat yang lain dilindungi seaman dan senyaman itu membuatku ingin jadi lemah. Terlebih ketika mendengar kisah kalian yang melindungi mereka dengan setulusnya perasaan sayang. Oh, aku sungguh mau jadi mereka. Andai mereka tahu bahwa kalian memiliki ketulusan sehebat ini, mereka pasti akan berpikir ribuan kali untuk menyakiti hati kalian. Dan andai aku memiliki hal – hal menarik yang mereka punya sehingga membuat kalian, teman – teman tangguhku, rela menjadi temeng yang melindungi mereka, aku siap menyembuhkan tiap luka kalian hingga benar – benar sembuh. Tapi bahkan aku tak mampu membuat seseorang menjadi tertarik padaku sebegitu dalamnya hingga rela menjadikan dirinya tameng bagiku yang sebenarnya sudah sekuat tameng itu sendiri. Aku hanya bisa menjadi seseorang yang berada di samping kalian. Menepuk bahu ketika kalian mulai tertunduk lesu. Meski terkadang, terutama saat – saat sekarang, aku ingin menjadi seseorang yang berdiri di hadapan kalian. Yang hanya dengan tersenyum bisa membuat kalian bahagia sampai ingin terbang ke angkasa. Dan yang tak sekedar menepuk bahu, tapi bisa menyentuh wajah kalian dengan tanganku (yang mungkin akan lebih menarik jika tak sehitam dan sekasar ini) untuk mengembailkan semangat kalian yang mulai redup.
Tetaplah jadi sosok yang tangguh, kawanku. Meski lelah, tapi yakinlah, seyakin kalian sewaktu meyakinkanku tentang seseorang yang akan melengkapi hidup kita. :)
Ketika kekosongan mulai merasuk ke hati..

Mengikatnya begitu kencang..

Inginku menggenggam tangan kalian, seerat mungkin..

Agar aku tak akan roboh dan tetap tangguh, seperti kalian..

Berharap galau ini cepat berlalu. . .

Sabtu, 25 Juni 2011

Kejujuran Saat Gerhana

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ2o2G2WGznXsUWtV72dlyPZnOF-WkHsaNV3QIOtW_eRE9To7H7c_PbGzB7Wldr3tjdxlexlB1-RBYePS1EYZe8H9df-kNJO99eF3Q7muNQa5kwjprythn4_PCUQajLn1Mfs6aeogbpKY/s400/113565_gerhana-bulan-total-16-juni-2011_300_225.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyE6KU8cKTffFNln7Yvs9mCEQnjsUg-NUd0kgMIzCBuUK93qwPuZKtVCIhZp8xbOVQJHbOhEs78NtOadVtVkGF8xauHDBcHLpEM0aHHJHv2WQ36-eSQC4HNmMXgiLGl2vMg8QnRieJY3s/s320/bintang-jatuh.jpg
Ini pertama kalinya..
Aku melihat gerhana, meski pernah aku melihat yang mirip seperti itu di siang hari, tapi saat itu aku tidak melihat prosesnya dari awal..
Dan bahkan satu malam sebelum gerhana terjadi, aku sudah kelelahan, lelah untuk berlari, tak hanya kaki, tapi sekarang semua sendi sampai kepalaku sudah sangat lelah.. Sempat menjadi orang bodoh yang menyerah pada keadaan, ah meski aku sudah pernah melakukannya.. Tapi malam itu aku benar-benar kalah bukan lagi mengalah..

Menjadi manusia paling kusut esoknya dan harus bertemu banyak orang, teman, tetangga, dan semuanya. Aku lalu menjadi orang yang dikasihani, oh menyebutnya diberi kasih sayang sepertinya lebih pantas, atau aku lebih suka menyebutnya merepotkan sebenarnya. Aku lebih suka direpotkan, ya aku sangat suka untuk menjadi repot, rela menjadi repot..

Karena sejak pertama kali aku mendengar kata itu dan belajar memahami artinya, aku pun tahu bahwa menjadi repot untuk orang lain bisa membuat orang yang berkata “maaf merepotkan” bisa tersenyum.. Dan aku pun makin suka untuk jadi repot bagi orang lain, karena meski kadang lelah, jengkel, tampak bodoh,  tapi itu menyenangkan..

Bukan berarti aku jelas-jelas menolak untuk merepotkan orang lain, tidak.. Karena rupanya ketika aku benar-benar lelah dan menjadi sangat merepotkan, aku dikasihani, aku. . . disayangi, setidaknya aku bisa merasa seperti itu. Rasanya lebih menyenangkan ketika ada seseorang yang menungguiku sampai suhu tubuh yang berlebihan itu kembali normal, meski orang itu pun akhirnya tertidur di tempatnya menungguku, di tempat tidur  yang sama dengan yang ku gunakan.. Tapi sudah lama sekali ada seseorang yang melakukan hal sama seperti itu dan setelahnya tidak ada lagi, hingga hari itu, hari disaat aku benar-benar lelah.. ya, aku harus, dan pasti aku akan melakukan banyak hal untuk orang ini, sangat banyak, dan kalaupun aku tidak bisa melakukan sebanyak yang aku mau, aku akan mendoakannya, berdoa sesering dan sebanyak yang aku mampu, agar dia bisa tersenyum, selalu tersenyum..meski airmata menetes di pipinya.. dan aku yakin, sahabatku ini akan menemukan banyak kebahagiaan..pasti :J 

Juga, menyenangkan bisa memanggil seseorang di tengah hari yang sangat panas untuk direpotkan, mengantarku ke tempat ahli memberi obat, meski ia punya banyak hal yang harus dilakukan, tapi ia tetap datang dan aku senang melihatnya datang.. bahkan ia tak henti mengajakku untuk lebih mudah menghadapi semua lelah dengan banyak gurauan.. ya, aku juga pasti akan banyak melakukan hal untuk dia, agar ia selalu kuat dan tak pernah berhenti mengajak orang lain untuk menghadapi segala sesuatunya lebih mudah.. aku pun juga yakin, teman lucuku ini akan menemukan jalannya sendiri untuk menemukan senyumnya,bahagianya, dan kekuatan untuk dirinya sendiri :J 

Dan tentu menyenangkan, sangat menyenangkan ketika ada seseorang yang tak pernah bosan karena terus aku datangi tak peduli apa yang sedang aku alami, hanya saja ketika aku sedang benar-benar lelah saat itu, aku tidak bisa datang.. Tapi ia dengan banyak kesempatan menarik lain yang bisa ia lakukan, ia memilih mau menemaniku berjalan pulang, dan meski panas terik mulai membuatnya berkeringat, ia justru makin cemas dengan keadaanku, dan selalu bertanya-tanya dalam khawatir akankah aku pingsan.. hahaha, ya aku bisa merasakannya hanya dengan melihatmu, dan tentu aku akan melakukan lebih dari sekedar berjalan kaki di tengah panas siang untuknya, lebih banyak, agar teman baikku ini tak lagi menjadi khawatir dan hanya akan tersenyum :J 

Bahkan ketika malam kritis sebelumnya harus aku lewati seorang diri, wanita terhebat di seluruh jagad raya ini, meski hanya bagiku, dapat ku dengar suaranya..menyebut banyak produk dan merek yang harus aku minum supaya aku bisa kembali berlari dan tidak lagi lelah.. Saat itu aku tidak mau dan tidak bisa melakukan apa yang dia katakan, karena aku bahkan sudah terlalu lelah untuk pergi mencari semua yang disebutkannya, tapi kata-katanya lah yang menjadikanku berani dan yakin bahwa malam itu akan berlalu..dan malam itu pun benar-benar berlalu.

Meski lelahnya belum berakhir malam itu... Dan pagi hingga malam berikutnya aku justru makin banyak membuat orang lain repot..Seperti membelikanku makan di warung sebelah, mengantarku ke kampus untuk menempuh ujian, atau terus menanyaiku tentang keadaanku..  ah, aku harus lekas kuat kembali, karena aku sudah tak sabar melakukan banyak hal untuk mereka semua..

Awalnya aku tak tahu kalau gerhana akan terjadi pada malam itu, benar-benar tidak tahu, tapi aku merasa akan lebih baik kalau aku tidak buru-buru tidur.. dan aku mengalihkan pengaruh obat-obat itu dengan belajar tentang banyak arti dari kisah yang diperankan, ohoho..sebuah film konyol pada episode pertama tapi menguras airmata pada episode akhir, sungguh..

Nyatanya, pengaruh obat-obat itu tak hanya satu, tapi ada banyak yang salah satunya tak bisa kuhindari dan membuatku harus bolak-balik keluar kamar.. Saat itulah aku melihat bahwa bulan benar-benar  sedang bagus. Entah karena insting atau naluri, lalu aku mencoba mencari tahu tentang yang akan terjadi malam itu, dan justru informasi itu datang sendiri, ya malam itu akan terjadi gerhana bulan total, gerhana yang baru akan terjadi, belum terjadi, tapi akan terjadi. Tanpa ragu aku bertekad untuk melihatnya, benar-benar melihat prosesnya. Maka aku mengerahkan tenaga yang tersisa untuk itu.. Sambil menunggu aku terus menatap ke langit yang rasanya lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Entah karena bintang-bintang tampak lebih sedikit, langit malam yang sangat cerah, dua guratan awan putih di sekitar bulan yang hampir bulat itu, atau mungkin karena bulan itu sendiri yang bersinar sangat terang dan mendamaikan hati.

Terlambat. Aku terlambat beberapa menit untuk melihatnya dari awal. Karena aku tak sanggup melawan rasa penasaranku untuk melihat kelanjutan dari film yang belum ku selesaikan. Ada sedikit sesal saat itu, tapi aku akan menebusnya dengan terus mengikuti proses yang tersisa sampai selesai.. Aku tak sendirian saat itu, ada beberapa orang duduk di samping kanan dan belakangku.. juga menatap gerhana itu dengan takjub, tapi tidak benar-benar menatapnya karena banyak hal yang juga mereka lakukan.. Dan aku menatapnya justru dengan banyak pikiran, dan terlalu lelah untuk banyak bergerak hingga aku hanya diam menatapnya..Meski dalam diam aku tak henti bertanya, tentang ini dan itu, entah bertanya pada siapa..mungkin pada diriku sendiri.. dan aku menjadi lelah, lagi, dan berhenti untuk terus bertanya, dan saat itu aku melihat sebersit sinar terang melintas sangat cepat tapi jelas di langit itu, ya tepat di depan mataku. Aaahhhh, itukah yang orang sebut bintang jatuh, itukah yang coba banyak orang tunjukkan di banyak kisah sebagai pengabul dari banyak keinginan dari orang yang meminta kepadanya ketika melihatnya melintas? Tapi bukan keinginan yang terucap pada saat itu, hanya kata “oh” berulang-ulang yang keluar dari mulutku. Terpesona bahkan sejak pertama melihatnya..

Oh bintang jatuh, kau justru membuat malam yang dingin itu semakin dingin dan kelu di tubuhku yang benar-benar sedang kelelahan.. Karena pesonamu yang membuatku langsung menyukaimu bahkan sejak awal melihat, mengingatkanku pada seseorang yang juga melakukan hal yang sama tanpa ia pernah tahu telah melakukannya..

Aku merinding, karena megingatnya dengan cara seindah itu sungguh sangat mudah membuat airmata ini jatuh..dan sudah terlalu banyak yang jatuh menetes.. Maka aku memfokuskan kembali pada bulan yang perlahan hilang itu.. Detik-detik berikutnya aku sedikit merubah posisiku dengan menunduk beberapa saat dan TAP! Saat aku kembali mengangkat kepalaku dan melihat bahwa bulan sudah sepenuhnya tertutup, aku melihat bahwa langit malam menjadi sangat kelam, gelap dan hitam, tidak menakutkan, tidak sama sekali.. Tapi justru sangat indah, karena aku bisa melihat banyak bintang, banyak sekali bintang yang beberapa jam yang lalu tampak lebih sedikit. Oh ya, ini mungkin terjadi. Karena bulan yang biasanya bersinar paling terang di langit itu untuk sejenak menjadi segelap langit dan memberi kesempatan pada bintang-bintang itu untuk diperhatikan. Dan bintang-bintang itu, yang ukurannya lebih kecil dibandingkan bulan, yang jarang diperhatikan orang ketika mereka menatap langit dengan bulan yang bersinar terang, kini tampak sangat bersinar..sinar yang mereka punyai sendiri, yang mereka miliki sendiri, yang keluar dari diri mereka sendiri. Mereka benar-benar indah. :J 

Lalu aku berpikir kalau nanti bulan muncul lagi, dan pasti akan muncul lagi, pasti bintang-bintang ini akan kembali diacuhkan. Padahal mereka punya sesuatu yang benar –benar dari dirinya sendiri dan tetap setia di samping bulan yang lebih dari padanya dan yang selalu menjadi primadona langit malam. Tindakan yang bodoh, sungguh bodoh, tapi aku justru merasa lebih bodoh, lebih dari sekedar sangat bodoh daripada bintang-bintang itu..

Bukankah sangat naif untuk merasa seperti bintang, merasa telah melakukan yang juga dilakukan bintang, bahkan merasa telah melakukan lebih dari yang dilakukan bintang? ya, sangat naif. Karena aku memang melakukannya, tapi sambil menahan dan menyembunyikan. Menangisi semuanya ketika sendirian lalu kembali tertawa ketika bersama banyak orang dan mereka. Dan sungguh aku tak mau jadi perhatian orang-orang dengan kondisi menyedihkan itu hanya untuk mendapat ucapan “sabar ya”. Tapi aku melakukannya karena hati ini sangat sakit, sungguh sakit hingga airmata terus-menerus keluar. Dan aku akan terus tertawa, ya tertawa, karena aku tidak ingin melihat kalian merasa tidak enak hati terhadapku untuk melakukan yang ingin benar-benar ingin kalian lakukan, ya melakukan sesuatu untuk membuat kalian bahagia. Maka aku akan terus tertawa dan tersenyum  dengan mata bengkak dan hidung merah, karena aku akan ikut bahagia ketika kalian bahagia.. Terdengar naif lagi bukan? Tapi aku tidak menemukan kata lain untuk menyebut apa yang aku rasakan. Karena aku juga tidak bisa menyembunyikan rasa sakitku, dan sakit ini sungguh sangat nyata. Mungkin akan lebih baik jika aku pergi jauh, sangat jauh dari sini. Mungkin akan lebih mudah.

Tapi bukankah ini semua kesalahanku? Salahku bahkan sejak awal karena terlalu percaya diri dan membiarkan arus membawaku serta membuatku melakukan hal-hal yang tak biasa dilihat orang-orang. Bukankah kalian heran ketika aku benar-benar melakukannya? Karena aku sendiripun heran..
Yang aku tahu hanyalah, bahwa yang aku rasakan sungguh hebat, mengasyikan dan membuat semua sendiku selalu ingin bergerak, tak peduli, tak khawatir, tak takut.. Dan ketika ditanya alasanku melakukan itu semua, aku justru kebingungan untuk mendapatkan jawabannya. Karena rasanya alasan itu sangat banyak hingga tak mampu aku ucapkan semua atau tak ada alasan sama sekali yang aku punya untuk ku ucapkan. Tak ada alasan. Hanya merasa. Sesuatu.

Sesuatu itu sungguh luar biasa. Aku bisa kuat membawa tas yang cukup berat untuk ukuran tubuhku sendiri dan tetap membawanya sambil tersenyum bahkan memaksa diri tetap kuat membawanya naik dan turun melewati jalanan ekstrim agar ia tak perlu membawa, karena sesuatu itu. Aku bisa langsung berlari tanpa berpikir ke lantai 4 setelah aku sampai dan baru saja sampai ke lantai dasar untuk melihat karya itu, juga karena sesuatu itu. Aku bisa tahan beberapa menit, hampir satu jam, berdiri menempelkan dahi ke tralis besi pelindung kaca jendela di lantai 3 untuk melihat segerombol orang sedang duduk di lantai 2, pun karena sesuatu itu. Aku bisa memikirkan banyak kata di depan kertas dan pena lalu menuliskannya dengan rima yang indah di malam hari, itu mungkin karena aku berbakat, hahaha, tapi hal itu sangat jarang aku lakukan sebelumnya, mungkin sesuatu itu juga mengambil perannya. Dan yang aku sangat bisa adalah menelan bulat-bulat rasa malu ku dan mengatakan ini itu kepada orang-orang yang saat itu bahkan belum aku kenal, sepertinya juga karena sesuatu itu. Tapi apa ini? Apa sebenarnya sesuatu itu? Haruskah aku bertanya-tanya pada orang lain? Apakah aku memang benar-benar tidak tahu sesuatu seperti itu?

Padahal aku pernah merasakan yang mirip dengan sesuatu itu sebelumnya, hanya berbeda di beberapa potongan episode. Ya, tanggungjawab yang aku pikul sampai ke kota ini membuatku tidak mudah untuk mendefinisikan sesuatu ini dalam bahasa yang lebih lugas. Dan tentu ada banyak hal lain yang menjadi pertimbangan, akankah aku layak untuk itu? Pantaskah aku? Takutkah aku? Aku?
Aku yang seperti biasanya tak pernah berpikir terlalu lama untuk memutuskan, memejamkan mata sejenak dan mencoba mendengar, dan yang kudengar adalah suara aliran air yang cukup deras, dan itu menjadi pemicu yang cukup bagiku untuk maju. Tak akan lagi mundur. Tak akan bisa kembali.
Meski aku harus tetap kembali ke tempat aku mendapat inspirasi itu untuk waktu yang tetap tentu karena memang aku perlu datang ke sana tiap harinya. Ah, tak perlu disebutkan tempat apa itu. J 
Maka aku menangkap angin, memegangnya erat, dan siap tuk terbang kemana pun ia akan membawaku. Menggenggamnya. Dan itulah yang sudah kulakukan. Yang rupanya sekarang menjadi sebuah kesalahan yang tak bisa ku bantah. Ya, ini kesalahanku. Pada titik inilah aku telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang tak pernah kusesali. Karena menyesalinya seperti seharusnya kesalahan untuk disesali, membuatku merasa bagaikan menatap bulan di langit itu yang sudah sepenuhnya tertutup dan mengaguminya tanpa pernah melihat keindahan bulan sebelum terjadi gerhana. Sangat bodoh.  Setidaknya dengan melihat keindahan bulan sebelum gerhana akan membuat siapapun yang melihat bulan itu lenyap merasa kehilangan. Rasa kehilangan itu bisa membuat orang jenuh dan pergi sebelum bulan kembali bersinar seperti semula. Atau, juga bisa membuat seseorang terus menunggu bulan itu muncul lagi karena merasa sangat kehilangan dan ingin melihatnya lagi. Lagi. Dan lagi. Seperti itu maka aku tak kan menyesali. Tak akan pergi. Meski kehilangan. Ingin melihatnya lagi. Dan menunggu.

Perlahan, sangat perlahan, bulan kembali. Waktu yang berjalan sangat lambat rupanya mampu merobohkan beberapa orang yang tadinya ada di sekitarku. Rasa kantuk menyerang mereka dengan caranya yang sungguh hebat. Tinggallah aku sendiri di situ. Di tempatku berdiri. Sejak sejam yang lalu mungkin. Aku sempat bertanya-tanya, sampai kapan aku akan terus begini? Sampai kapan aku akan kuat untuk seperti ini? Dan pada detik berikutnya aku sadar kalau aku harus bisa membuat diriku untuk pergi. Sebentar saja. Untuk beristirahat. Sejenak.

Lalu ku mendapati diri merebahkan tubuhku yang kedinginan di tempat tidur yang cukup hangat. Benar-benar nyaman dan membuat hati menjadi lebih tentram. Tanpa khawatir.
Hampir terlelap saat itu, saat dimana sebuah rekaman memori terputar ulang di otakku. Bunyi tetes air yang  deras dan langkah-langkah kaki orang yang berjalan mondar-mandir di hadapan kami, terasa sangat nyata. Mungkinkah aku sudah mulai bermimpi? Tapi bukankah ini pernah aku alami? Ya, aku sangat ingat kejadian waktu itu. Di kampus. Menunggu hujan sedikit mereda. Aku melihatnya benar-benar gugup. Meminjam buku yang sedang ku pegang dan terus-menerus membolak-balikan halaman secara cepat. Aku yakin dia tidak sedang mencoba memahami isi buku itu dengan sekilas.
Buku itu bahkan tidak berisi kisah-kisah yang membuat khayal melambung tinggi, hanya rumus-rumus dan hukum-hukum tertentu dari sebuah ilmu. Aku tahu dia gugup. Melihatnya seperti itu tanpa sebab yang jelas membuatku heran. Beberapa kali aku menolehkan kepala untuk tersenyum. Ia sangat lucu. Dan aku tersenyum. Ah ya, aku tesenyum. Cukup aneh, karena ada banyak orang di sana. Berjalan mondar-mandir dan beberapa terus berbicara. Tapi momen itu terasa melambat sejak aku sadar kalau aku sedang tersenyum. Bahkan orang-orang yang sedang berjalan itu seolah sedang ada dalam sebuah film yang bergerak sangat lambat (read: slow motion), dan aku yakin film ini cukup terkenal. Kali ini cukup berlebihan bukan? Kenyataannya memang tidak terjadi seperti itu, hanya seolah. Memikirkannya secara sepihak seperti ini sungguh menggelikan. Karena tak ada yang tahu apakah ia, yang duduk di sana sambil bergerak dengan gelisah seperti membenarkan letak kacamatanya padahal kacamatanya berada di tempat yang sudah seharusnya, juga memikirkan hal yang sama. Yang paling mungkin adalah menebak. Dan tebakan terbaikku adalah ia terus berdoa agar hujan cepat reda sehingga ia bisa cepat pergi dari temapt itu. Pergi menjauhiku. Pergi.

Lekas aku bangun dan berjalan cukup cepat keluar kamar. Tubuhku benar-benar sedang lelah tampaknya, karena kepalaku langsung pusing ketika aku bangun. Aku berdiri di tempat yang sama sewaktu gerhana bulan terjadi. Tapi kemana bulan itu? Aku sudah tidak bisa melihatnya lagi dari tempatku berdiri. Mungkin aku perlu melompat untuk bisa melihatnya lagi. Dan aku melompat. Beberapa kali melompat hingga mual rasanya. Namun bulan sudah tak terlihat lagi dari sini. Dari tempatku berdiri. Pandanganku terhalang sebuah tembok yang cukup tinggi. Cukup tinggi dan kuat. Haruskah aku mencari tempat lain? Perlukah aku mencari tangga? Atau sanggupkah aku untuk merobohkan tembok itu?

Jawabannya tidak. Aku tak lagi punya kekuatan sebesar itu. Aku sudah benar-benar lelah. Lelah ini tak hanya membuatku kehilangan energi. Lelah ini juga telah membuat mataku terlalu banyak mengeluarkan air. Sakit. Karena sakit. Aku lelah.
Hanya tak ingin melihat bulan itu pergi dan aku melompat. Hanya tak ingin melihatnya menjauh dan aku terus melompat. Berusaha agar aku bisa melihat. Bisa dilihat. Hingga lelah.
Dengan wajah lesu aku kembali ke kamar. Berdoa. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan untuknya sekarang. Hanya membiarkannya. Merelakannya. Melepaskannya. Dan aku akan ada di sini, di kamarku, menunggu hingga malam esok tiba. Berharap agar bulan masih bersinar terang di langit. Karena aku ingin melihatnya lagi. Ingin melihatnya terus. Meski hanya dari tempatku berdiri di sini. Dari jauh. Seperti memang seharusnya aku berada. Jauh darinya. Agar ia tak pernah lagi terganggu. Agar ia selalu bisa terlihat seperti biasanya. Terlihat lucu dan membuatku tersenyum diam-diam. Ya, melihatmu dari jauh. Tak perlu ada yang tahu. Tak perlu ada yang terluka.
Cukup aku..
Hanya aku..

Aku..

Yang melihatmu dari jauh..

Oh bulan..